Beranda > Pelaksanaan Program, Program > Gambaran Kerja Puskesmas

Gambaran Kerja Puskesmas

Kegiatan di Puskesmas nampaknya harus dijabarkan dulu agar ada gambaran tentang masalah ini.

Untuk melihat kegiatan puskesmas kita harus sedikit melihat pada pasal-pasal di Kepmenkes 128/2004. Sebenernya sudah jelas mana yang merupakan fungsi puskesmas di sana. Bahasa dewanya disana disebutkan bahwa fungsi puskesmas adalah :

  1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
  2. Pusat Pemberdayaan Masyarakat
  3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Namun pada saat menyusun persyaratan ISO 9001:2000 salah satunya adalah menyusun manual mutu, yang lebih menggambarkan apasaja gaweannya Puskesmas kami merinci kegiatan menjadi 3 jenis :

  1. Kegiatan Manajemen
  2. Kegiatan Pelayanan Kesehatan
  3. Kegiatan Pelaksanaan Program

Seperti pada posting sebelum ini saya menjelaskan bahwa kegiatan manajemen terdiri dari POAC. Pelayanan kesehatan dan pelaksanaan program-program sebenarnya ya Promotif Preventif Kuratif Rehabilitatif dengan penekanan masing-masing pada unsur-unsurnya dan tergantung dari jenis programnya.

Kegiatan Manajemen dibagi menjadi : Manajemen Personalia (Man), ini kerjaannya TU banget, meliputi semua urusan kepegawaian sampai dengan pengembangan kemampuan-ketrampilannya (sekolah, kursus, seminar dan pelatihan) dan peningkatan karirnya (kenaikan pangkat, dll). Manajemen Keuangan (Money), dilakukan oleh bendahara, secara struktural pengendaliannya ada di bawah TU, meliputi semua masalah keuangan PKM. Manajemen Sarana dan Prasarana (Material), sekarang lebih dikenal dengan Obat dan Perbekalan. Yg terakhir Manajemen Pengendalian Dokumen (Method) meskipun dalam pengendalian dokumen ISO juga lebih banyak lagi yang diurus. Organizing-Actuating-Controling dilaksanakan simultan dalam bentuk jadwal harian & bulanan diawasi dengan monitoring dan evaluasi sekali setahun. Bila pembagian tugasnya besar misalnya siapa yg pegang program promosi kesehatan, itu diadakan di Tinjauan Manajemen (1 tahun sekali).

Kegiatan Pelayanan Kesehatan adalah keseharian Puskesmas, kegiatan antara lain : pelayanan di Loket, Rawat Jalan (BP, Poli Gigi dan Poli KIA), Rawat Darurat (UGD dan PONED), Rawat Inap, Laboratorium, Poli Konseling, Apotek dan Rujukan Ambulance.

Kegiatan Pelaksanaan Program, terdiri dari : Promosi Kesehatan, Penyehatan Lingkungan, Kesehatan Keluarga, Peningkatan Gizi Masyarakat dan P2M ditambah program-program inovatif seperti UKS, UKGM, Perkesmas, Keswa, Kes Indera, Kes Usila dan Batra.

Di Puskesmas, tenaga fungsional yang ada antara lain adalah : Dokter, Dokter Gigi, Bidan, Perawat, Perawat Gigi, Sanitarian, Nutrisionis, Asisten Apoteker dan Laboran (itu juga yang lengkap jarang sekali). Tenaga lain yang asalnya dari umum adalah : tata usaha, pembantu rawat, pembantu bidan, cleaning service, satpam, staf umum. Dulu ada yang dinamakan juru. Ini adalah pegawai dengan pengetahuan umum yg dilatih program tertentu, misalnya : juru kusta, juru imunisasi (jurim).

Permasalahan

Teman saya Pak Sjahrir mengatakan :

Dokter menjadi Ka Puskesmas karena penguasaan tindakan pelayanan. Penyehatan masyarakat dan lingkungan yang punya disiplin ilmu.
Pemisahan tugas tidak dilakukan berdasarkan masalah yang ada untuk lingkup pengambilan keputusan di tiap tahap/level manajemen.

Proses perencanaan misalnya, hanya copy dan paste dari apa yang terdahulu. Tidak ada pendekatan rasional. Yang ada pendekatan berdasarkan daftar kebutuhan untuk mendapat anggaran….

Saya setuju dengan pendapat beliau tentang : Dokter menjadi Ka PKM karena penguasaan tindakan pelayanan. Ya, tapi tidak hanya itu. Dokter, Dokter Gigi dan SKM sama dibekalinya ilmu kesehatan masyarakat. Sehingga perencanaan kesehatan sampai dengan evaluasi masalah-masalah kesehatan 3 jenis tenaga ini mampu merencanakan dan melaksanakan. Sedangkan kegiatan penyehatan masyarakat dan lingkungan adalah kegiatan terpadu. Sehingga tidak bisa terpisah dari peran dokter bila ia ditunjuk sebagai kepala puskesmas.

Pemisahan tugas (pembagian tugas?) sebenarnya sudah dilakukan berdasarkan masalah, bila itu menyangkut pelayanan sehari-hari. Misalnya di BP, dokter dan perawat; di poli KIA, bidan (+dokter); di poli Gigi (drg. + Perawat Gigi) dst. Tapi bila yang dibicarakan adalah peningkatan kemandirian masyarakat, maka program lebur jadi satu.
Masalah TB Paru, misalnya, akan melibatkan bagaimana promokes akan menerapkan advokasi, penyuluhan, pemberdayaan; bagaimana kesling melihat lingkungannya berpengaruh atau tidak; perkesmas melaksanakan pendidikan kesehatan kepada keluarga-keluarganya ttg masalahnya, bagaimana P2M mulai dari pemantauan imunisasi BCG sampai ke program P2TB-nya melaksanakan DOTS, UKS harus bisa meningkatkan pengetahuan murid-muridnya dst dst.

Yang demikian itu disebut integrasi program-program puskesmas karena diharuskan menganut azas keterpaduan.

Demikian pula pada saat perencanaan, azas keterpaduan pun menjadi salah satu dasar penyusunan. Bahwa kemudian ada yang kupipas ini tentu saja harus dilihat individunya dan beban tugasnya. Pendekatan rasional sudah cukup banyak dan sudah banyak provinsi yang mengembangkan sendiri-sendiri bagaimana membuat pendekatan rasional. Misalnya ada yang namanya Pendekatan PROSFEK (evidence based) ini nasional jadi mestinya puskesmas mana aja kalo provinsinya mengembangkan pasti kebagian minimal sosialisasi. Adalagi yang disebut sebagai Lokakarya A dan B ini juga evidence based; di KIA ada DTPS, kemudian ada ISO. Bahkan sekarang sampai Balanced Score Card sudah akan dijadikan pola manajemen di Puskesmas. Tapi tentu saja perlu waktu untuk benar-benar menjadi matang.

Diperjelas

 

Inti masalahnya sebenarnya adalah siapakah komandannya. Ini yg oleh cakmoki digarisbawahi pada pekerjaan fungsionalnya di lapangan, yang oleh Pak Sjahrir karena kemampuan penanganan medisnya sehingga pilihan mereka jatuh pada dokter.

Ada beberapa cerita tentang kegagalan penerapan kebijakan ini, banyak cerita tentang perseteruan gara-gara kebijakan ini dan sedikit cerita keberhasilan juga karena kebijakan ini ..

Mungkin ada baiknya kita melihat skalanya lebih luas, barangkali yang gagal karena belum ada persiapan sebelumnya, misalnya jumlah tenaga, sarana dan anggaran yang tidak memadai sehingga penggantian manajemen berujung kegagalan, atau mungkin betul bahwa manajer dilatih tapi pemimpin itu dilahirkan jadi memang udah dari sononya .. atau gaya kepala dinas saya, kepemimpinan itu intinya komunikasi, komunikasi intinya informasi, informasi intinya data, so siapa yang menguasai data akan jadi pemimpin .. ??

Mari kita diskusikan, mungkin dengan tambahan diatas akan jadi lebih berkembang atau malah tambah bingung hehehe .. 

  1. Pinti
    15 Juli 08 pukul 23:44 | #1

    Ikut2an ah
    Yach………..Memang betul apa yang tersurat dalam komentar. mungkin ada beberapa Ka PKM. yang tidak dari pendidikan Fk. sering kali di ragukan dalam hal kepemimpinan dan Manajemen. kita harus sadar SKM mungkin punya latal belakang pendidikan lain dan membunyai banyak pengalaman dan strategi yg lebih matang.
    Sedangkan kegiatan puskesmas kegiatan terpadu. tidak bisa terpisah terpisah dari programi puskesmas.atau di kotak2. Pemisahan tugas (pembagian tugas?)dilakukan bukan untuk berdiri sendiri, Misalnya kerajaan BP, dokter dan perawat; kerajaan poli KIA, bidan (+dokter); kerajaan poli Gigi (drg. + Perawat Gigi) dst.
    Memang betul bila yang dibicarakan adalah peningkatan kemandirian masyarakat, maka program lebur jadi satu.
    Bingung hehehe…..ngak mungkin kali bagi orang2 yang legowo dan sumeleh.
    cukup dengan memahami TUPOKSI….Diskusi Pentiiiiing………

  2. draguscn
    16 Juli 08 pukul 7:08 | #2

    Iya bu (eh betul kan ibu .. belum kenalan soale) .. emang mbingungi apalagi kalo sudah urusannya mesti bersitegang dengan teman-teman baik sesama medis maupun dengan teman-teman non medis padahal masalah yang lebih penting masih cukup banyak untuk diutamakan.
    sperti orang ngeributin shalat shubuh pake kunut apa ngga, yang ngga shalat shubuh malah dibiarin moloor .. hehehe OOT…

  3. Pinti
    16 Juli 08 pukul 17:17 | #3

    Untuk draguscn
    Belum kenalan? emang perlu.?
    yang terpenting dapat tukar pengalaman dan ilmu khan………..
    bisa2 kepincut atau bahkan kecut kalau kenal….. he.he…he..
    bersitegang dengan teman-teman baik sesama medis maupun dengan teman-teman non medis?……..soal pembagian honor kalik…………….di tambah soal kursi kekuasaan. kalau soal program kayaknya good bay my love……….. betul khan……cek…cek….

  4. draguscn
    16 Juli 08 pukul 17:59 | #4

    Iya .. saya memang layak dipecut
    berani-beraninya merengut-rengut ..
    meminta diri untuk disebut ..
    biar saja jangan disahut

    pembagian honor dan kekuasaan
    ngga ada siapa yang akan dapatkan
    selain horor dan rebut-rebutan
    paling berakhir dengan kekecewaan ..

    [idih banget yaaa.. :D ]

  5. 6 Agustus 08 pukul 12:31 | #5

    Kalo saya bisa memberi penyoalan, mari kita lihat salah satu laporan LB1 yang terdiri dari sekian banyak penyakit pada kelompok umur di wilayah kerja Puskesmas.
    Nah… melihat itu, untuk mengatasi penyakit yang ada dan tingkat kunjungan :
    - Apa program Farmasis untuk memproyeksikan kebutuhan obat dan mengawal penggunaannya ??
    - Manakah penyakit-penyakit yang bisa dirancang programnya oleh SKM agar penyakit itu dapat ditekan ? berapakah prediksi kemampuan program itu untuk menghadapi target penurunan yang direncanakan ??
    -Apakah kesiapan2 tindakan medik yang harus dilakukan dokter agar pasien lebih cepat pelayanannya???
    -Apakah standar perawatan yang harus disiapkan kalangan Perawatan agar pelayanan itu lebih siap dan … dan…
    -Apa kata Kapuskesmas untuk itu ??
    Mari mengambil masing-masing dari masalah kesehatan/kesakitan yang diderita rakyat (saya sengaja tidak memakai “diderita masyarakat” supaya tidak kepeleset makna).
    Pak Jojok… mana LB1 anda. simpan dulu BL lainnya.
    Mungkin dari sisi dapat dilihat bahwa begitu lama LB1 tetap disimpan di laci puskesmas, atau hanya untuk dikirim ke Jakarta.
    BEGITUKAH masalah kita ????

  6. 6 Agustus 08 pukul 15:13 | #6

    Hehehe .. semangat betul pak Sjahrir kali ini ..
    Karena itu tugas seorang dokter di PKM juga tetap ada unsur manajemen-nya ..
    Hanya saja untuk yang ready to fly .. misalnya barangkali ka pkm yang SKM tadi sudah siap dengan program-program maka ia bertugas menjaga :
    1. Masalah POAC
    2. Unsur Input (Man, Money, Material, Methods)
    Sedangkan dokter tetap dengan teknis. Bukan hanya teknis medis akan tetapi teknis program juga. Jadi menjadi dokter puskesmas yang baik bukannya tidak bisa dengan Kesehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan. Tapi harusnya justru makin jago karena integral dengan angka kesakitan yang nyata ditangani.
    Mengingat kerjaan manajemen yang POAC dan M4 itu dianggap ringan maka ditugastambahkan kepada dokter. Shingga ia jadi ka pkm. Apalagi kalo dokternya di PKM banyak.

  7. sibermedik
    2 September 08 pukul 11:55 | #7

    Wah..ck..ck..thanks info nya sangat berguna bagi calon2 dokter..

    ternyata bener2 PUSKESMAS (PUSing,KESel,MASuk angin) ya kerjanya.

  8. sibermedik
    2 September 08 pukul 11:56 | #8

    Mampir komen saya juga ya dok..url nya dah saya pasang di blogroll.

    http://www.sibermedik.wordpress.com

  9. 2 September 08 pukul 14:17 | #9

    Hehehe .. iya .. orang-orang yang kayak “teroris”-2 itu bikin ide saya memperkenalkan puskesmas yang sebenarnya jadi tertahan-tahan ..
    Buat yang senang tentu saja kerjaan di PKM bisa dinikmati ..

  10. 8 September 08 pukul 23:45 | #10

    Salam Kenal dulu sebelumnya
    Saya Adittya, pengajar dan sesekali ikut research di FKM UI.
    Punya idealisme untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
    Ada projek kecil saya adalah mengembangkan SIMPUS freeware. Web base (php mysql), transactional dan data rekapan untuk sp2tp. krn keterbatasan waktu dan resource lainnya, saya memohon bantuannya untuk memperkaya SIMPUS ini.
    Selama ini hanya merujuk pada loket-pendaftaran-poli umum-gigi-kia,imunisasi-apotek (logistik sederhana)-data rekapan dlm gedung dan luar gedung.
    Untuk poli KIA saya tertarik dengan modul yang anda buat, jika boleh saya ingin melihat system model atau busines model dari pengembangan modul KIA anda.
    Insyaallah, jika lancar setelah lebaran saya ingin share dengan kawan-kawan seperjuangan. Terimakasih untuk perhatiannya.

  11. 9 September 08 pukul 14:07 | #11

    Salam kenal, selamat bergabung ..
    Kami tunggu yang bisa di download ..
    Hehehe ..

    Salam

  12. mrmazter
    29 Mei 09 pukul 19:19 | #12

    Kalo mnrt q yg prl di cetak tebal adlh kwalitas etos krj para PNS yg trhrmt (trutama) yg ngaku dah senior. Layaknya pengangguran saja mrk 3D :datang, duduk, diam nunggu jam biar lbh pnts bwat plg. Jam 11, yah ngopi dulu, tiduran, ngrumpi, smpe ke warung bwat ngisi wkt luang (tp g smuanya loch)
    Bkn krg tenaga krj, tp kurang tenaga

    • 29 Mei 09 pukul 19:33 | #13

      :-) titik berat yang bagus .. di puskesmas saya kalo yang seperti itu udah ngga ada. Kalaupun ada, saya ngga akan menganggap karena dia PNS senior. Menurut saya itu personal sekali terhadap masing-masing orang. Saya lihat beberapa senior di puskesmas ini malah ngalah-ngalahin yang muda-muda .. meski memang ada juga yang “kurang tenaga” ..
      masalah nya ngga disitu .. kekurangan tenaga kerja bisa menyebabkan terjadinya overload beban kerja dan bila kita berhadapan terus setiap harinya maka akan mudah sekali terjadi penyimpangan disiplin.
      Attitude memang hal yang sulit diobati, tapi setidaknya kita harus bikin standar minimal inputnya masuk dulu, baru mengharapkan proses yang benar ‘mungkin’ berjalan.
      Bener ngga?

  1. Belum ada trackback.