Masyarakat dan negara kita mengaku miskin. Keadaan ekonomi dikabarkan terpuruk. Kemiskinan diberitakan terus bertambah. Kenyataannya, setiap hari ratusan mobil baru terjual. Ribuan barang mewah dan puluhan rumah mewah terjual.
Lihatlah pula mal-mal yang dipenuhi orang-orang hilir mudik, berbelanja dengan keranjang berlimpah barang. Lihatlah restoran mahal penuh dengan kenikmatan konsumen dan betapa banyak motor gede serta mobil mewah berseliweran memacetkan jalanan.
Begitulah paradokisme yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. APBN sebagian besar dihabiskan untuk membiayai belanja rutin; membuat gedung-gedung perkantoran pemerintah, yang sebenarnya sudah megah, namun dibuat makin mewah. Sementara itu, rakyat semakin susah, banyak jalan yang berlobang, dan makin banyak sekolah rakyat di daerah terpencil yang roboh.
Rakyat kita mengaku miskin, tapi borosnya luar biasa. Baru dapat bantuan langsung tunai (BLT) saja, langsung beli ponsel atau VCD. Padahal, buat makan atau bayar sekolah saja tidak bisa. Begitulah kenyataan yang makin memiriskan hati.
Tulisan diatas adalah kutipan dari tulisan ROSI SUGIARTO, Pondok TK Al Firdaus BSB, Jatisari, Mijen, Semarang di Koran Jawa Pos.
Cocok banget ..
Berapa hari yang lalu bikin tulisan ini :
Eh ngga nyana ternyata emang kenyataannya yang miskin juga ngga tahu diri .. tahu ngga yang paling rame di pasar Semampir beberapa hari ini setelah pembagian BLT? toko emas dan toko pakaian !! Hebat .. pakaian sih emang masih kebutuhan dasar a.k.a kebutuhan primer yang dulu terkenal dengan sandang, pangan dan papan. Tapi toko emas? Dan menurut pembantu saya, memang yang belanja juga yang dapat BLT ..
Yang mengherankan gizi buruk yang udah susah payah kita tangani dan berasal dari segmen ekonomi ini hampir setiap tahun tidak mengalami perubahan yang berarti .. Kemampuan pemerintah terbatas dalam menangani gizi buruk, dan kalo masyarakatnya ngga mau ikutan berubah, ya seperti menggarami lautan ..
Ini sih tingkat pendidikan Dok. Yang memang ya begitulah.
Perilaku apa hanya dari pendidikan saja, dudid? .. salah satu ya .. karakter masyarakat, media informasi, intervensi iklan dan pembelajaran keliru saya rasa juga harus diperhitungkan.
Kemudian disisi kami sebagai pelayan kesehatan juga harus introspeksi, seberapa jauh pembelajaran gizi buruk lebih diutamakan misalnya?
saya lebih setuju, hal ini karena karakter masyarakat. Baik masyarakat yang kaya maupun yang miskin, sama saja karakternya.
Yang miskin gak ngeh prioritas kebutuhan hidupnya
Yang kaya gak ngeh dengan kesenjangan sosial di sekitarnya.