Pertemuan Supervisi Fasilitatif di Surabaya
Hari ini ikut pertemuan Supervisi Fasilitatif di Hotel Bandara sampai dengan hari Jum’at. Kami berangkat bersama dari Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo jam 13.00, dan kita lumayan berjejal di kijang yang dipinjamkan oleh Dinkes, 9 orang termasuk supir. Yang berangkat 3 orang dokter, 4 orang bidan puskesmas dan 1 orang Bikor Kabupaten.
Kami sampai di Hotel Bandara, Sidoarjo, sekitar jam 16.00. Dan ngga seperti biasanya, sekarang tiba paling duluan.. hehehe



Pake acara sempat istirahat dulu .. dan karena disuruh presentasi mewakili Probolinggo, maka kesempatan ini digunakan untuk mempercantik presentasi.
Acara Presentasi Pertama

Kok justru malah jadi supervisi suportif, bukannya namanya supervisi fasilitatif. Acara ini diadakan oleh UNICEF bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur.
Jam 19.30 kita mulai presentasi dimulai dari bu Wulan dengan gambaran Probolinggo dan bagaimana kegiatan-kegiatan Supervisi Fasilitatif tingkat Kabupaten, dan hasilnya ternyata cuma pertemuan-pertemuan.
Kemudian dilanjutkan oleh Mas Anang Boedi, Kepala Puskesmas Sumberasih. Presentasi Mas Anang menarik karena selain Mas Anang menggambarkan bagaimana Puskesmasnya berhadapan dengan berbagai kendala dan berbagai macam kegiatan. Puskesmas Sumberasih memang saat ini saya yakini paling giat melaksanakan kegiatan-kegiatan kesehatan.
Akhirnya tibalah saatnya om presentasi .. dimulai dengan berbagai cerita tentang kecamatan krejengan .. penting bagi saya menjelaskan bahwa nama kecamatan kami adalah krejengan, karena baru datang aja udah ada yang nanya mana puskesmas kranjangan dan yang paling biasa kami temukan adalah krenjengan.

Kemudian saya memperkenalkan desa-desa di krejengan, dan desa-desa yang disupervisi polindesnya (hijau). Dan kemudian saya menggambarkan kepada audiens tentang bagaimana kematian ibu ternyata di tahun 2006 dan 2007 masih ada, tapi 2008 sampai dengan akhir oktober ini masih belum pecah telurnya alias nol. Dan kematian bayi meskipun berkurang namun terus ada sampai dengan tahun ini.
Saya memberitahukan pula bahwa sebagaimana puskesmas lain kami melakukan tahapan pelaksanaan supfas dalam 4 tahap :
-
Sosialisasi-Orientasi di Puskesmas tanggal 18 Februari
-
Kajian Mandiri BDD Polindes tanggal 25 Feb – 08 Maret
-
Verifikasi Bikor tanggal 10 Maret – 07 April
-
Pertemuan Evaluasi tanggal 08 Juli
Saya juga menggambarkan di salah satu Polindes, Karangren, bagaimana proses Verifikasi tersebut berlangsung, sebagaimana di gambar-gambar berikut ini.








Meskipun di Krejengan kami melakukan visitasi Verifikasi terhadap 12 orang BDD namun kami hanya diminta menampilkan data 4 polindes.
Apa sih Supervisi Fasilitatif ?
Supervisi Fasilitatif adalah Manajemen Mutu dengan pendekatan proses. Alat yang digunakan adalah ceklist. Diharapkan dengan melaksanakan supervisi pelaksanaan kegiatan-kegiatan polindes, maka akan tercapai suatu pelaksanaan kegiatan yang standard.
Kegiatan yang dinilai di Polindes ada 2 hal :
-
Asuhan Persalinan Normal
-
Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Dua kegiatan ini dimunculkan dalam angka kepatuhan. Yang bila semua dipatuhi akan mencapai 100%. Ada dua grafik yang berkaitan kepatuhan dengan dua pelayanan diatas. Untuk bar yang berwarna hijau adalah yang merupakan polindes yang diujicobakan.

Kebetulan yang diambil sebagai sampel dalam penilaian polindes ini berada di polindes-polindes yang masih cukup baik. Namun di Kecamatan Krejengan masih terdapat beberapa yang beum mendapatkan nilai yang baik.
Duh betul betul memalukan .. ternyata setelah dilihat lagi semuanya ngga ada yang dapat ponten C. Lha wong dibawah 60% semua .. eh sebentar dulu .. kalo semua nilai jelek kan dosennya yang salah .. coba dilihat apa sebabnya ..

Ternyata emang ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Pelayanan Kesehatan bayi dan balita misalnya ceklistnya berdasarkan sudah dilaksanakannya MTBS, sementara Puskesmas Krejengan memang masih belum dapat giliran pelatihan MTBS. Kemudian Rantai Dingin mengharuskan adanya vaccine carrier standard di petugas, sementara sekarang petugas hanya menggunakan termos biasa.
Masih ada beberapa hal memang yang sebaiknya menjadi koreksi pada angka pencapaian ceklist ini. Tapi bukan itu sebenarnya kenapa kami dikumpulkan di Surabaya ini, pelaksanaan ceklist inilah yang ingin ditanyakan oleh UNICEF apakah bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Kayaknya di postingan baru aja kali ya ..
oke sampai disini dulu laporan hari pertama ..
![]()
post ini dibuat dengan windows live writer ® sebagaimana dapat anda temukan di blog puskesmas | opm | bljrblog | balita | hkn | idi

Mas Agus ini BLOGGER, Dokter,presenter,photographer, dan setumpukan ER wah…komplit abis
waaah .. lagi sahur pak ?
woi…keren juga tuh
phutu2 desa karangren…
ya bukane sombong…
ancen karangren lumyan uapiek…
desane..
rame, bersih, n ramah2 lagi rakyatnya…
bukan maksud promosi loh…
yo wez…
maju terus krejengan…
keep kund ae wez…
maju terus puskesmas Indonesia.
terimakasih untuk melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya
Banyak juga analisisnya ya…Pak.
Kadang-kadang saya bingung melihat program kesehatan yang selalu dilaporkan berhasil… Berhasil melaksanakan pelatihan selama sekian paket dengan sekian peserta…
berhasil memberikan penyuluhan dengan sekian yang disuluh, 100 persen pencapaian target telah dipenuhi dan 100 persen dana telah ludas habis-habisan…. Tapi di data kematian…. kesakitan… bblr, gizi buruk yah… datanya makin naik-naik ke puncak gunung.
Apa mestinya kita dianalisis saja ???
Menkes ngomeli WHO di seminar Bidan, apa kita sudah berdikari ya….
great…great…
waks .. lama ngga ditengok ternyata postingan ini gara-gara prahara di blog sebelah.
@Kroni Sudirman
tinggal di desa karangren ya mas Kron? Sering maen dong ke pkm. Di Halaman Puskesmas ada hotspot lho.
@arifrahmanlubis
Mas Arif, Selamat menempuh hidup baru .. makasih suportnya .. posting2nya bener-bener menyentuh .. semoga saja cahayanya sudah tertangkap.
@limpo50
Iya, pak Sjahrir, kita di kesehatan itu berkaitan banget dengan perilaku. Sementara perilaku baru bisa diubah setelah belasan tahun kalo kondisi sama, dengan kondisi berubah-ubah seperti sekarang ini sulit juga mau memastikan apakah kita bisa merubah perilaku masyarakat menjadi PHBS apa ngga. Apalagi kesehatan itu selalu jadi sorotan. Sedikit kasus BBLR, gizi buruk lebih besar ceritanya dibandingkan cerita berhasilnya desa siaga, ODF dll. Jadi apa yg mau kita analisis, pak Sjahrir? Nanti kalo udah ketemu judulnya kita ajukan ke Hellen Keller International, biar dapat pendanaan. Hehehe saya nebeng nama jadi narasumber ya ..
@buzul
yo Zul, apanya yang great? Ada juga badan gua tambah great .. hehehe..