Mau Membenahi SIMPUS

Standard

Sudah dua hari ini ada pertemuan di Kabupaten dengan judul “SOSIALISASI PENGEMBANGAN DAN PENGUATAN PERANGKAT LUNAK PWS KIA DI KABUPATEN PROBOLINGGO” yang ujung-ujungnya berjalan menjadi diskusi tentang Implementasi Simpus di Puskesmas.

Prakondisi

Penggunaan SIMPUS yg sekarang ada di puskesmas-puskesmas kabupaten Probolinggo memang tidak sama antara satu dengan yang lainnya, di beberapa puskesmas dengan kemauan yang kuat untuk menjadikan sistem lebih baik pemakaian simpus difasilitasi, didanai dan diawasi sendiri oleh kepala puskesmasnya. Ambillah contoh di Puskesmas kita sendiri ini. SIMPUS yang digunakan adalah SIMPUS yang dibeli dari Mas Jojok (seorang pengembang software sistem informasi dari yogyakarta, karenanya sering disalah sampaikan dengan “simpus dari ugm”). Beberapa puskesmas lain yang punya minat seperti puskesmas krejengan adalah Puskesmas Pajarakan dan Puskesmas Paiton.

Bagaimana dengan puskesmas lainnya? Masih banyak yang belum sadar betapa memudahkannya teknologi bila dijalankan dengan benar. Biasanya sesuatu yang berurusan dengan komputer selalu menimbulkan stigma sulit, virus dan memerlukan biaya besar. Ini nampak di pemikiran kepala-kepala puskesmas yang ikut pertemuan 2 hari ini.

Pun ada yang menggebu tapi biasanya selalu ada hambatan sumber daya manusia, pemeliharaan sarana dan pengetahuan tentang program simpus. Ini berlaku untuk puskesmas-puskesmas yang jalannya tersendat, maupun yang sama sekali nda jalan.

Ada juga puskesmas yang masih bertahan dengan sistem “tua”. Well, mungkin karena mau dibilang “makin jadi” seperti mas anang (puskesmas Sumberasih dan mungkin puskesmas Wonomerto) masih mempertahankan SIK dengan foxpro-nya. Sulitnya sistem ini yang ngerti cuma Pak Taufikurrohman di dinas kesehatan Kota RS Moh Saleh.

Berangkat dari berbagai macam latar belakang tadi, dan ditambah dengan adanya keinginan dari Dinas Kesehatan Propinsi untuk memanfaatkan bantuan UNICEF dalam pembuatan Software yang bisa dipakai oleh bidan untuk memonitor kesehatan ibu dan anak. Maka ditawarkan lah untuk mengadopsi beberapa program pencatatan sistem informasi kesehatan.

Pertemuan Sosialisasi

Hari pertama pertemuan diisi oleh presentan dari Dinas Kesehatan Ngawi dengan membawakan SIMPUS (basis ms.access). Seperti yang dilihat tahun-tahun lalu pas studi banding ke Ngawi, ya programnya masih yang itu juga. Maaf Mas Rudi dan Pak Pujo, tapi tampilan sekarang ini termasuk salah satu yang menentukan kenyamanan bekerja. Bidan saya pernah komentar “kok masih jelek (dia bicara tampilan) ya pak dokter” untuk suatu sistem pencatatan yang kami buat sendiri. Mas Rudi mengenalkan lebih dari yang diporsikan, apalagi dari Ibu yg dari Dinkes Ngawi itu semangat sekali menjelaskan semua dari awal. Mestinya tim advokasi seperti mereka dari awal sudah menganalisa mana yang early adopter tapi user program lain, mana yang bener2 newbies terhadap program sistem informasi, atau bahkan konsep sistem informasi.

Probolinggo bukannya baru terhadap sistem informasi, bahkan lumayan lama bergelut menentukan mana program yang ingin digunakan. Jadi keinginan untuk memiliki program sistem informasi tidak usah repot-repot ditumbuhkan lagi. Yang belum adalah komprehensif-nya. Ini berkaitan dengan kemudahan yang didapatkan. Bila program cukup komprehensif, kepala puskesmas pasti akan melihat sebagai kemudahan untuk menjalankannya. Tapi bila belum menyeluruh pasti akan separo-hati dan cenderung memilih modul. Yang termasuk dalam komprehensif disini juga, di puskesmas melaksanakan di dinas juga. Kalo cuma PKM yang seru, dinas tetap meminta laporan dalam bentuk kertas ya matur nuwun sanget, masih akan terasa memberatkan.

Hari kedua yang datang dari Dinas Kesehatan Propinsi — karena mungkin Hari Jum’at  — bertugas hanya mendiskusikan dan merangkum. Ada ulasan menarik yang disampaikan beliau. Di Jawa Timur melihat dari angka-angka kesehatan ibu dan anak yang nampaknya menuju stabil, verifikasi sudah bukan isu lagi. Tapi harus mulai memperluas sistem sperti misalnya sejauh mana Sistem Informasi diadopsi oleh bidan praktek swasta, dokter spesialis dan praktek dokter umum.

Kesimpulan 

Timbul keinginan untuk mengadopsi program SIMPUS Ngawi pada pertemuan ini wajar sekali karena nda ada saingan. Yang ditampilkan tentu saja kemudahan sistem menurut mereka yang pengguna lama, bahkan produsen. Seandainya disajikan juga pilihan-pilihan lainnya mungkin ceritanya akan lain.

Kemudahan yang bisa dicapai dengan program SIMPUS Ngawi ini jelas :

  • Gratis! Freeware bersyarat kerjasama (MoU) antar Kepala Dinas ini tentu saja memudahkan anggaran.
  • Lebih banyak modul dari yang ada sekarang, dan sudah sesuai dengan bentuk laporan yang ada, untuk ke dinas maupun di tingkat puskesmas.
  • Bisa dibenahi sendiri. Asal punya kebisaan Ms.Access kita bisa “agak mengacak-acak” program ini.

Menurut kami kelemahan dengan mengadopsi sistem kesehatan Ngawi adalah :

  • Tampilan. Ini yang payah betul. Mungkin dari Ngawi sudah saking kulinonya sampe nda merasa masalah. Mulai dari tahun 2005 SIMPUSnya tidak berubah tampilan menjadi lebih “bersih”
  • Perpindahan dari program lama, bisa dilaksanakan dengan resiko kehilangan data.
  • Ms. Access sangat mudah menyebabkan data “bengkak”, ini bisa berakibat lambat. Juga rawan terhadap kerusakan data karena listrik padam. Berarti harus pake UPS.
  • Karena bentuknya online. Puskesmas harus menyediakan paling sedikit 2 komputer. Nda masalah! Yang masalah kalo sudah BP, KIA, Gigi, Loket dan Apotek sudah “terpaksa” bareng hidup. Berapa Puskesmas di Kabupaten ini yang dayanya sudah 3500watt. Berapa banyak yang sanggup membiayai operasional seperti itu. Di Puskesmas Krejengan dayanya 2200 tetap nda aman dari ‘njegleg.
  • Ms Access sekarang sudah cukup cangih. Berapa banyak yang pada ngerti Office 2007. Yang sudah sangat disenangi Word dan Excelnya.

Solusi

  • Untuk Puskesmas yang sekarang sedang menjalankan program SIMPUS (Rawat Jalan) sebaiknya terus melaksanakan program tersebut. Peralihan akan memakan waktu yang cukup lama sampai dengan sumberdaya siap. Sayang sekali kalau data tidak dimasukkan.
  • Untuk Dinas Kesehatan, sebaiknya tetap mengadakan MoU. Sistem diadopsi tapi tidak lantas semua ditelan, kita akan perbaiki kekurangan sumberdaya sendiri dan kekurangan program ini.
  • Untuk Puskesmas yang early adopter terhadap program SIMPUS apapun silahkan menggunakan SIMPUS Ngawi. Sumberdaya yang perlu anda miliki harus cukup. Listrik cukup, komputer, helpdesk dan motivasi kepala puskesmas sangat diperlukan.
  • Bila sementara ini ingin mengembangkan Sistem Pencatatan untuk KIA, carikan modul lepas, yang tidak terkait dengan modul lain.

Seorang atau organisasi setingkat dinas yang ingin menjadi pengembang (developer) program SIMPUS memang harus memperhatikan hal-hal seperti :

  • Freeware sangat tinggi peminatnya. Shareware (anda senang dengan program demo, lanjutkan dengan bayar dulu) menyusul kemudian. Program berbayar memang harus bersaing ketat.
  • Jadi, bila kita beli program harus dengan dukungan kuat terhadap pengembangan program. Help desk harus ada.
  • Program SIMPUS (sebenernya apapun) sebaiknya mudah di-customize. Pada saat user ingin bentuk laporan atau rekap data tertentu mudah dilakukan oleh user sendiri. Lebih baik lagi kalau sudah bisa memberikan customize tampilan. Sehingga orang tidak bosan.
  • Modul yang diberikan cukup beragam. Yang bisa dipilih sesuai dengan kemampuan user.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk jadi pemikiran teman-teman pengembang sistem informasi kesehatan.

ASI, air susu ibu, keuntungan, kelebihan

post ini dibuat dengan windows live writer ® sebagaimana dapat anda temukan di blog puskesmas | opm | bljrblog | balita

Advertisements

31 thoughts on “Mau Membenahi SIMPUS

  1. Wah asyik juga pertemuannya. Akhirnya persoalan “legacy system” benar-benar menjadi masalah seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna ya…
    Saya kira menjadi contoh yg menarik jika di satu dinas beberapa puskesmas menerapkan software yang berbeda-beda. Yg harus dipertimbangkan integrasinya. Jika ini tidak bermasalah..saya kira merupakan contoh yang baik…

  2. Dr. Agus Ciptosantoso

    Ya integrasi itu juga kendala yang sampai saat ini belum usai, mas. Di Puskesmas dengan sistem “tua” seperti yang saya ceritakan, mereka enggan banget pake simpusnya mas jojok, karena harus mulai dari 0. Puskesmas lain tampaknya oke, tapi kembali komitmen nda cuma harus ada di puskesmas tapi juga di dinkes. kalo dinasnya ngga semangat pkm-nya ikut melempem.

  3. jojok

    hehe… untuk tulisan pak agus, no comment deh pak agus, nanti akan menimbulkan conflict of interest, penjual kadang kalau ngomentari punya orang lain bisa-bisa banyak setan lewat haha…

    nah kalau pak anis sudah sampai bicara pada level integrasi, ilmu saya yg belum nyampai, mungkin sampai skrg masih keasikkan ngajari orang puskesmas nutul kibord..itu saja dah bikin pusing..

    yg jelas saya setuju pak Agus dengan pendapat njenengan terakhir, KOMITMENT, bener-bener harus ditulis dengan huruf besar pak. barang langka di negeri ini.. sampai sekarang kalau ada orang nanya kalau mau studi banding kemana, cuma dua daerah yg saya rekomendasikan, Pwrj dan Ngw (maap inisialnya saja 😀 ), sejauh ini baru dua itu yang saya liat komitmennya teruji, mungkin pak agus atau pak anis ada masukkan lain ?

  4. Dr. Agus Ciptosantoso

    Hehehe bicara kebaikan kok sungkan-sungkanan. Purworejo apa masih seperti dulu yaa .. Pak Kadinkesnya dulu emang orang “gila” (menurut bahasa pak pujo) .. Saya kenal KOMITMEN (tuh udah pake capital) dari beliau, terutama untuk simpus. Tapi kalo ngga salah waktu itu udah mau pensiun. Kalo nda sempat menularkan virus gilanya pada yang lain, bisa-bisa gawat …

    Ngawi sih emang udah “tak terkejar” (istilah kepala dinas saya) dan kaderisasinya bagus sekali. Ngawi nda perlu takut kehilangan orang paling atas selama basis-nya kuat gitu. Menurut saya yang perlu dilakukan Ngawi tinggal kosmetik, supaya program tampak lebih menarik pada saat “jualan” ke daerah lain. Misi sampai sistemnya udah sip banget.

  5. Pinti

    Mas jojok, level integrasi, ilmu saya yg belum nyampai, mungkin sampai skrg masih keasikkan ngajari orang puskesmas nutul kibord..itu saja dah bikin pusing.. setuju………. betul sekali…………KOMITMENT gampang, asal SDM suda betul2 siap. semangat pkm-nya ikut melempem…………. betul pak Agus…….. setuju………..beli Com 10 s/d 100 pun mungkin mampu,dalam jangka 1detik, 1menit, 1 jam, 1 hari ,1mg, 1bln, 1th, tok…….tok……..angkutan datang bawa barang, tapi operasionalnya, waduh…………. bisa2 kita gak bisa bayangkan . ayo………yo……….podo nikmati hidup aja. huaheem. SIMPUS……………SIMPUS……………com otaknya lebih rendah dari MANUSI haaaa………… sory, mas Jojok kewalik ngak ya……………….

  6. Pinti

    semoga bermanfaat dan sebagai semangat untuk teman teman kita yang blm bisa com, malas kaliik…………………apa memangnya udah kadung kantil sama polpen,,,,,,,,,apa potlot ya…………apa mlempem semua dari atas, tengah dan bawah……….jadi mengkret kalau gitu,,,,huahahem………..

  7. jojok

    gak kewalik… bener.. computer itu bodonya minta ampun .. disuruh ngitung mau, disuruh bantu ngetik mau, disuruh mainin game mau, palagi disuruh muterin pilem2…mau banget hehehe…

    memang yg dibutuhkan man (atau woman) nya behind the gun . kalau kemampuannya baru sebatas megang bolpen, lha dikasih 100 kompie jg gak ngaruh, yg ngaruh panitia pengadaan tuh hehe…

    pak agus kemana ya ? kok lama gak keliatan..

  8. Pinti

    jangan bilang2 ya………kalau di suruh mau tapi kalau diapusi ngak mau.kalau Man, disuruh kagak mau, ngak bisa sok2 bisa. ngak ada usaha lagi, mana yang, sudah tua, nrimo ing pandum mau pensiun lagi. kapan simpus PKM aku di jenguk. setengah mati lho….

  9. jojok

    secepatnya bu hehe …
    tp janji bsk kalau ada yang nakal mohon di jewer lagi, paling gak harus jemput saya di klaten, terus nganter pulang lagi kalau mbikin masalah dengan Simpus hehe 🙂

    Jojok

  10. draguscn

    Terima kasih .. Selamat datang lagi, pak Sjahrir. Kemaren sudah komentar disini.
    Saya juga udah berkunjung ke makanan makasar kegemaran saya. Kalo ada Sop Kondro sama Es Palu butung juga ditongolkan bareng resepnya pak. hehehe .. biasanya kalo ke jakarta saya makan itu di Kelapa Gading ..

    Kesan saya Pak Dokter paling serius sama SIMPUSnya. Masa depan SIMPUS bisa dari sini ya

    Hehehe bisa aja pak Sjahrir ini .. belum apa-apa saja sudah banyak kesandungnya .. tapi betul saya InsyaAllah konsisten bin serius. Meski mungkin akhirnya harus ngalah nda pake SIMPUS® bapak yang sudah terkenal ini [hahaha jangan marah lagi mas jojok] saya akan terus coba kembangkan sistem informasi puskesmas.
    Mas satu ini [halaah..tuman] yang pantas kalo dijadikan rujukan pak .. dia juga baru berkunjung ke ngawi, SIMPUS saingannya bapak ini .. nda jadi ..
    Oke pak sering-sering mampir yaa ..

  11. jojok

    :p

    saya nunggu pak agus ngalah .. hehe.
    btw minggu dpn silahkan unduh prototype Simpus KIA saya pak di alamat email biasa..dlm minggu ini saya benahi bumil dan balita. Gratisssssssss skrg, kalau dah resmi bayar…

  12. Para Pejuang SIMPUS semangkin PD ya…..
    Saya fikir SIMPUSnya satu saja…. Mau KIA,Balita,atawa apa satukanmi…. ehehee itu bahasa mi dari makassar artinya “lah” atau “saja” atau “sudah ….”
    Jadi kalo bicara sama teman Makassar nyambungmi !

    Kapan ya ada hari SIMPUS se Indonesia…. hahaaa
    Salam buat semua teman se SIMPUS, aku sih tukang provokatori saja…

  13. Bapak-Bapak dan Mas-Mas di Jawa bukan main majunya !!!!
    di daerah timur belum banyak yang bisa begitu kecuali yang digarap Mas Jojok ya…. .
    Tambah kubaca komentar2 tambah pusing saya melihat persaingan yang asik.
    Mas Jojok… mana demonya KIA.
    Aku sih hanya pengamat saja…. biar rame bukan ???
    Pak Agus,
    Aku kayak juru masak Pak. pinter membuat resep hehehee
    soalnya saya orang apotik duluuuuuu. sekarang istirahat tinggal usil2 kenasa kesini, terutama gangguin Mas JOJOK.
    Kapan lokasi ngobrolnya dipindah….

    Salam Hormat dari saya buat semua,

    Sjahrir Hannanu

  14. draguscn

    Ya pak .. eh rupanya udah 3 komen dari bapak belum saya bales ..
    @#14
    iya, mi. sudah saya balas mi, sambil makan mi, mi yang terakhir beneran mie, mi. hehehe .. becanda pak .. itu sambil mbales mas Moki .. kemana yach orangnya ..
    @#15
    Hehehe ..  nyindir nih .. saya main kok pak ke rumah bapak .. Saya setuju .. kita gangguin aja mas Jojok nih .. oya .. kalo bisa jangan cuma digangguin .. cariin jodoh juga .. denger-denger di makasar maitua cantik-cantik ..
    @#16
    Ya, pak emang se-ide terutama dalam hal makanan hehehee .. saya belum berani komentar yang berat-berat di weblognya pak ..
     

  15. wah, boleh juga nih mau ikut coba bikin program buat simpus pkm, sayang aku agak buta bentuk pelaporan di pkm, ada yang mau ngajarin ???

  16. draguscn

    Kalo hari libur maen ke krejengan aja. Nanti kita mulai garap satu-satu .. kalo udah jadi nanti bisa kita jual seperti bap..eh
    Asal jangan kendor di jalan aja.. dulu kami pernah ketamuan 3 orang gagah dari sebuah akademi komputer yang sangat canggih di sebelah timur .. seiring dengan waktu kegagahan mereka hilang .. kerja untuk simpus membutuhkan dekat dengan data .. mereka mau sistem jarak jauh, datang bawa data pulang, sperti yang saya harapkan perkirakan 3 org gagah tadi pergi tak kembali ..
    kasian.. dan kasian juga pemda yang bayar mereka untuk bikin program simpus

  17. wuaduh ini dia yg plng berat, komitmen….

    saya maunya simpus bisa dibuat gotong royong, trus di freewarekan, jd kl satu orang dak bisa krn masalah pekerjaan ato apalah. yg lain masih bisa jalan…
    kalo mau kita bisa jualan supportnya sj

    enaknya lagi kita tidk di batasi waktu pengerjaan, sak sempete ae…

    yg jadi masalah ….
    – ngumpulin orang yg satu visi dan mempunyai kemampuan relatif sama

    – kebijakan pemerintah yg sering berubah-ubah mengenai bentuk pelaporan (sy sdh ngalami di rs)

    ada yg mau nambahin…

  18. jojok

    setuju setuju saja dengan pak Kunto.. sepertinya kalau trend mengarah ke arah freeware lama2 saya jg bs gatal jg meng gratiskan software Simpus.. cuma, mgkn nanti jg ada bbrp ‘kompensasi’ dan ‘efek samping’ yg muncul, plg gak:

    – kaum programmer spt saya harus mikir sumber dana lain utk operasional harian, bulanan, tahunan, syukur2 ada donatur baik hati. kita (atau saya thok ya??) butuh bensin utk jalan keliling puskesmas dan daerah (diundang ataupun gak diundang), butuh servis motor biar tetep fit nganter keliling puskesmas, butuh ngasih honor utk temen yang bantu keliling nengok puskesmas, butuh beli pulsa utk sms kalau ada upgrade, butuh biaya untuk mbayar warnet hehe…

    gimanapun .. gak semua programer bs ngandalin proyek2 yg ada batasan waktu dan anggaran, serta cuma ngejar dan nunggu spj rampung.. saya kebetulan ngembangin simpus jg dgn modal dengkul, tanpa batas waktu, tanpa mikir mbikin spj, berat rasanya kalau gak ada sumber dana selain dr hasil jualan hasil pengembangan..

    – kaum birokrat jg harus konsekwen, jgn lagi ada proyek2 SIM jutaan atau puluhan juta yang gak ketahuan juntrungannya.. (pinjem istilah pak syahrir, nantinya cuma tinggal tulang belulang yang berserakan) gimanapun jg kita programer kalau disuruh disuruh milih, ngasih free atau mroyek, pasti ngiler juga liat proyek ber jut jut berseliweran di iklan2 lelang proyek, mending ngikut proyek, perkara software dipake atau gak, bukan urusan programer, yg penting spj sip, laporan rampung,

    – kaum pengguna (user) lebih tepatnya kepala puskesmas ( hehehe…;) ) hrs jg mulai memikirkan kesejahteraan programer :D. syukur2 nyediakan anggaran untuk operasional support simpus..

    mohon maaf, ngumpulin se visi dan se komitmen bukan berarti dari kaum tukang seperti saya terus terlupakan kesejahteraannya.. untung belum punya tanggungan hahaha…

  19. Berdosa menggratistan lho…. serius nih.. baik yang memberi maupun yang diberi. heeeeheee.
    Mari beramal…. Jual…dan beli…. itulah ikhlas tulen. Jangan bilang ikhlas dihati tidak.
    Gituuuu…

  20. draguscn

    Mas Kunto di #20
    Setuju freeware .. tapi sak sempete ae .. mmm .. agak kurang setuju .. soale ini kerjaan yang diharapkan profesional. Jadi mesti tidak terburu-buru selesai, tapi jangan dengan asal sempat baru kerja. Apalagi kalo sudah tataran user seperti di pkm, kami bisa melorot kalo nda serius. Tapi pada saat kita sudah menjadikannya kebiasaan akan muncul kemudahan-kemudahan. Gitu kan ya ?
    Mas Jojok di #21

    kepala puskesmas ( hehehe… 😉 ) hrs jg mulai memikirkan kesejahteraan programer :D. syukur2 nyediakan anggaran untuk operasional support simpus..

    saya sudah lho … 🙂
    Pak Sjahrir di #22
    Kalo ngerampok emang iya pak dosa .. masa kalo yang jual ngasihkan nda diterima .. nanti malah masuk ke hukum satunya lagi al mubadziru ihwanus sayathiin hehehe

  21. Pinti

    Ramai juga ya di sebelah sini, ngintip takut…ada yang ngrampok…..dari pada ngintip aku ambil aja KATA2 NGERAMPOK. tak taruh almari, pribadi kasih pin yang spesial. ngak ada yang bisa ngeluarin kecuali yang punya Pin yaitu PINTI…………he..he……he…..malu ah…..jangan gitu ahhhh……. jangan keluar lagi lho ya….

  22. draguscn

    beres bos ..mo ngintip .. mo ngerampok .. mau jualan pinti silakan
    Asal jangan OOT aja berkepanjangan .. 🙂

  23. jojok

    hehe… balik ke topik ah..

    simpus mmg harus dibenahi, itu intinya.. 🙂 skrg kita ikuti saja arus hidup kita, kemana mau mbawa.. kalau sekarang saya lagi ikut arus pembenahan simpus cara saya sendiri hehe. tentunya masukkan dari rekan2 yang jadi penghuni puskesmas selalu saya tunggu, supaya simpus mas jojok tambah maju, supaya simpus mas jojok tambah laku …. 😀

  24. Pinti

    okey juga bos….beres bos…. kita mau melangkah. 1x aja maju dari sekarang. lewat simpus mas jojok, kita bisa lihat rapat kepemimpinan kita dan kinerja teman2 kita. tnks bos…… udah di ingetin, sekarang kembali ke mas jojok ….. mimpi mas jojok akan jadi kenyataan ..Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s