Review SIMPUS KIA v 2.1

Standard

Oke deh ini upload ke-2 dari mas jojok .. n sesuai tupoksi saya sebagai user adalah mereview dan merengek-rengek minta dilengkapi ini dan itu ..

Sebagai gambaran umum, di v 0.9.2 ini .. beberapa hal sudah ditambah, meski ada juga yang tadinya udah bagus malah dikeluarkan lagi.

  • Sebenarnya tadinya sudah jadi tanda tanya kok banyak yang mbleset dari kartu ibu? ini kartu ibu yang mana yang digunakan pada simpus KIA? Apa yang udah diadaptasi atau yang berlaku nasional? Meskipun saya juga ngga ngerti apa kartu ini dipake di seluruh propinsi. Paling ngga di Kalsel dan di Jawa Timur saya lihat sama persis. Bisa saja ada disediakan secara nasional, tapi diadaptasi oleh dinkes baik propinsi maupun kabupaten untuk mengakomodasi kebutuhan data.

thumb-kartu-Ibuthumb-kartu-Ibu-b

  • Setelah ditimbang-timbang sebaiknya SIMPUS KIA ini include saja di dalam simpus rawat jalan. Dengan demikian pendataan di loket tetap bisa digunakan oleh Simpus KIA. Bahkan kalo bisa multiuser murni lebih baik lagi.
  • Saya masih belum bahas mas jojok udah mau ngeluarkan lagi perbaikannya .. baiknya saya tunggu aja versi 0.9.3. Padahal orangnya masih sibuk jalan-jalan ke ternate lah ke makasar lah ..
Advertisements

15 thoughts on “Review SIMPUS KIA v 2.1

  1. jojok

    hehe.. iya pak.. thx belum bahas,

    ini sdh saya coba kirim upgradenya, sdh beserta pemetaan tp baru dari satu sisi saja, dimana kita milih wilayah kemudian muncul data2 variabel KIA nya ( utk tahap ini memang saya fokus ibu hamil)

    untuk konten software tidak saya kurangi kok, tp memang sengaja saya tutup dulu supaya bu bidan pada tahap ini fokus pada pendataan ibu hamil dulu, baru nanti ke data bayi balita..jadi ya memang harus step by step pada pengembangan yg modul ini.

    oke thx banget saya tunggu review kiriman saya, minggu ini baru bisa mulai mrogram lagi, akhir pekan nanti saya upload lagi pemetaan variabel KIA dan bbrp output baru..

    akhirnya tak lupa juga saya mengucapkan :

    MERDEKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….

  2. jojok

    pak dokter..

    sdh ambil upgrade yg ada pemetaan ? minggu ini agak blank berat, jd progress simpus kia agak tersendat, maklum banyak urusan..tp yg pake peta sdh jadi kok, 50 % hehe

    untuk tambahan, saya sdh mendapatkan contoh kartu poedji rohyati, sangat simpel kok, tinggal nambah variabel di simpus, langsung score muncul..

    mumpung bapak di jawa timur, pasti banyak kenalan dari unair hehe… bisa ndak kiranya bantu saya untuk kontak dengan beliau ? saya coba search tp kok blm dpt kontak yg langsung ke beliau. saya ingin minta ijin untuk memasukkan ilmu beliau ke dalam software saya. kalau gak ijin kayaknya gak etis juga, maklum ini barang sensitif 🙂

  3. Bu Puji Rohyati sering main ke probolinggo. bahkan ibu bupati kami dapat penghargaan dari bapak presiden karena beliau. nanti saya tanyakan teman-teman barangkali ada yang bisa menghubungkan ke beliau.

  4. Salam Kenal dulu sebelumnya
    Saya Adittya, pengajar dan sesekali ikut research di FKM UI.
    Punya idealisme untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
    Ada projek kecil saya adalah mengembangkan SIMPUS freeware. Web base (php mysql), transactional dan data rekapan untuk sp2tp. krn keterbatasan waktu dan resource lainnya, saya memohon bantuannya untuk memperkaya SIMPUS ini.
    Selama ini hanya merujuk pada loket-pendaftaran-poli umum-gigi-kia,imunisasi-apotek (logistik sederhana)-data rekapan dlm gedung dan luar gedung.
    Untuk poli KIA saya tertarik dengan modul yang anda buat, jika boleh saya ingin melihat system model atau busines model dari pengembangan modul KIA anda.
    Insyaallah, jika lancar setelah lebaran saya ingin share dengan kawan-kawan seperjuangan. Terimakasih untuk perhatiannya.

  5. Duh jadi malu, jadi tuan rumah yang ngga ramah sama tamu .. silakan mas … sementara saya belum bisa tuliskan tentang business model-nya karena memang nda sempat .. saya mesti hati-hati kan ya .. apalagi keterbatasan saya dalam menterjemahkan program simpus ke dalam bisnis model juga harus di upgrade dulu ..
    Silahkan bergabung saja .. disini kita bicara santai tapi hasil serius .. 🙂
    Salam kenal, Mas Adittya. Di websitenya saya udah tinggal nama sih dari kemaren .. disini yang belum sempat jawab. Mohon maaf. Selamat bergabung.

  6. Adittya

    Sante aja mas, sama-sama belajar aja ya!
    Thanks udah diterima bergabung
    mudah2an bisa create yang bermanfaat buat orang banyak ya! AMIN

  7. jojok

    sesama tamu boleh ikut nyapa kan ?

    Salam kenal pak adit..senang bisa nambah teman lagi, ditunggu masukan2nya untuk Simpus 🙂

    kalau pingin simpusnya sip, gak salah mengontrak (eh maaf … mengontak) pak Agus jadi konsultan hehe, dijamin bapak ketemu orang yang se ide dan se idealis dengan bapak..

  8. Lho monggo .. memang dibuat untuk saling menyapa, saling memberi, koreksi dan kritik. Asal jangan adu gontok-gontokan program aja .. hehehe .. tapi ya ngga papa juga yang untung tetap user .. hidup programer!

  9. Puskesmas Mojoagung

    Dok ada yang komentar gini lho …….

    Data Penyakit PUSKESMAS dianggap SAMPAH ??

    Posted by: limpo50 on: August 16, 2008

    Banyak keluhan mereka yang berkecimpung dalam pengumpulan dan pelaporan data Penyakit di Puskesmasnya menjadi berang tatkala mendengar komentar yang bernada seolah-olah data yang dikumpulkan, disimpan atau disajikan berkualitas seperti sampah…. alias rekayasa, tidak up to date, sulit dipercaya….dan sekumpulan kata yang kurang enak didengar…. Bagaimana sebaiknya ???
    Bagi mereka yang berkecimpung dalam tugas data dan informasi hal ini memang penting diperhatikan.., tatkala pelanggan memperlihatkan spesifikasi data yang dimintanya. Disitulah batasan MUTU ditegakkan, yaitu pemenuhan permintaan pelanggan yang disepakati. Jika tidak, maka haruslah kita bertebal muka dan telinga membiasakan kritik tajam itu……………………..

    Sumber :http://limpo50.wordpress.com/2008/08/16/data-penyakit-puskesmas-kok-dianggap-sampah/#comment-186

    GIMANA pendapat dokter Agus CN (yang lagi gencar sosialisasi SIMPUS )????

  10. Pak Sjahrir memang pengamat kesehatan yang baik .. beliau bisa dikatakan orang dalam karena beliau juga berkecimpung di dunia kesehatan, kalo ngga salah apoteker ..
    Beliau sering komentar di blog ini .. dan beliau seperti Mas Heri adalah fans berat ISO. *lirak lirik*
    Maksud beliau jelas ..
    Data kesakitan yang dihasilkan oleh puskesmas memang perlu validasi. Selama masih kurang kesadaran untuk mengumpulkan data dengan kejujuran kita masih akan terus berhadapan dengan data sampah. Sebagai introspeksi, saya pernah awal masuk kesini, mendapati bahwa setoran retribusi kepada dinas pendapatan daerah berdasarkan jumlah pasien umum yang ditangani dan ditarget dalam jumlah tertentu setahunnya. [saya pikir kebanyakan daerah begitu] dan dengan gampangnya waktu itu puskesmas membagi target setoran dengan 12 bulan dan menyesuaikan kunjungan dengan angka itu .. bayangkan betapa sampah busuknya waktu itu data yang dihasilkan. No wonder terjadi berbagai wabah, mungkin karena dosa ‘nyolong’-nya yang dihukum Tuhan, atau karena mekanisme penularan yang memang ‘ditutup-tutupi’ berkat setoran bertarget.
    Bahkan sekarang pada saat semua digarap dengan SIMPUS saya bisa melihat masih terjadinya penyelewengan data. meskipun jauh berkurang dibandingkan dengan pertama saya masuk. Apalagi SIMPUS kami pake pemetaan (GIS) sehingga kelihatan sekali mana desa yang ngga nyetorkan data.
    Itu juga yang saya coba beritahukan pada seksi Sistem Informasi di Dinkes saya, yang ditolak mentah-mentah dianggap bukan masalah.
    Jadi kalau ditanyakan pendapat saya, bukan karena saya menghormati pak sjahrir yang sepuh, tapi harus diakui bahwa pendapat beliau masih berlaku untuk kebanyakan daerah yang membuat target setoran retribusi pada jajaran kesehatan. Peluang “nyolong”-nya tetap ada.
    Padahal kalo mau dirunut ke atas di salah satu penjelasan strategi depkes itu ada himbauan menkes untuk tidak menjadikan pendapatan daerah yang berasal dari retribusi pelayanan kesehatan.
    Tanpa bermaksud menyalahkan siapa-siapa, ini memang dosa kumulatif.
    –> Yang diujung jajaran, bidan-perawat, sudah tahu tidak punya kompetensi, masih juga melayani layaknya dokter, Data yang disetorkan jad data entah. Entah yang seharusnya sedikit dibanyak-banyakin. Atau yang seharusnya setor banyak, tapi karena kepentingan supaya kebulan asap di polindes dan pustu bisa lebih tebal akhirnya ngga disetor semua asal menuhin target aja ..
    –> dokter/ka PKM-nya menyerah terhadap keadaan yang memang tidak ideal, sehingga mau aja terima data “garbage” dan tanpa analisa menyerahkan ke dinas kesehatan, tidak turut serta membina, mungkin karena merasa kalah senior dengan stafnya, atau takut berujung konflik
    –> Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tetap saja menuntut pemenuhan setoran sehingga akhirnya terjadi juga penyelewengan data. Mestinya penjaga gawangnya ada disini nih biar ngga banyak kebobolan.
    –> Pemdanya memasang sebelah mata kepada kebijakan pusat. Yang penting perut PAD bisa membuncit, atau memang buncit gara-gara kurang gizi, jadi dalamya kosongan .. jadi tetap haus terus meminta kepada jajaran pelayanan publik seperti kesehatan. Padahal seharusnya sudah waktunya sehat sebagai hak itu dikedepankan.
    –> Diatas tingkat kab sampai ke depkes .. ini lebih ada-ada lagi hampir setiap rapat konsultasi teknis tiap tahun ditelorkan program baru yang sampai sekarang akhirnya ngga tuntas-tuntas ngurusi pembelajaran manusianya yang menurut istilah mas jojok baru diajari nutul kibod.

    Initinya kalo saya ditanya apakah data puskesmas adalah data sampah ? Saya bukan ingin sorak-sorak “hore-hore-hore .. mampus-mampus-mampus” tapi saya malu .. kita masih terkendala bgt banyak hal sehingga lebih rela berbohong buat sasaran tercapai .. hhhh ..
    [kejawab ngga pertanyaannya?]

  11. jojok

    akhirnya ada juga yang menulis data puskesmas adalah data sampah 🙂

    untuk puskesmas mojoagung, saya juga tidak setuju 100% untuk pendapat data sampahnya (sekitar 70% lah), tapi paling tidak ada tambahan satu bahan diskusi yang lebih menarik lagi untuk lebih mengungkap kondisi data di puskesmas kita. eh itu tingkat puskesmas, gimana data tingkat dinas kesehatan kabupaten, belum lagi propinsi, apalagi nasional ya…

    saya salut kalau ada data di pkm sudah tidak lagi mencerminkan data sampah, atau petugasnya bisa jadi berang mendengar pernyataan itu (berarti petugasnya sudah rajin), tapi memang kalau bapak menyempatkan diri keliling ke puskesmas lain yang boro-boro ngejar ISO, ngejar supaya petugas nulis laporan dengan lengkap dan benar saja gak bisa, yang kadang membuat laporan dengan bermain estimasi dari data terdahulu, mungkin bapak bisa memaklumi kalau Pak Syahrir melontarkan pernyataan itu..

    jauh sebelum saya mulai kenal banyak puskesmas, di awal saya mulai memperkenalkan Simpus ke pkm, saya ketemu seorang kepala dinas kesehatan yang cukup senior.sebagai seorang ‘pedagang asongan’ Simpus yang masih baru, saya baru belajar untuk menjadi penjual yang baik. baju rapi, wangi, senyum ramah terus…

    eh waktu itu saya di plonco habis-habisan di kantor beliau, di ejek habis-habisan soal Simpus yang saya tawarkan, dan salah satu kata-kata beliau yang sampai sekarang masih saya ingat adalah

    “Data Puskesmas itu Data Sampah pak Jojok !! ngapain anda mau ngurus hal kayak gitu..sudah anda pulang saja, kami tidak butuh software yang anda tawarkan !!!”

    bisa dibayangkan pak, saya yang masih demikian lugu (sampai sekarang masih lugu lho pak), baru mau belajar mengajak implementasi Simpus… eh sampai di usir2 segala, untung saat itu juga lagi belajar ndableg, jd diem ae biarpun disuruh pulang hehe…

    selanjutnya beliau bercerita panjang lebar gimana kondisi manajemen data di puskesmas yang umum terjadi. salah satunya yang paling mudah untuk contoh adalah soal laporan data kesakitan alias LB1. beliau menguraikan banyaknya laporan yang asal2an, susahnya membuat rekapitulasi, kadang (atau sering) mengarang data hanya untuk mengejar tanggal setoran data. itu baru kesakitan, penyakit, belum lagi obat yang banyak beterbangan lewat jendela (istilah di sumbawa barat… ), atau apalagi soal data setoran uang.

    Perploncoan dengan beliau yang membuat keringat dingin mengalir deras berakhir ketika akhirnya beliau bersedia melihat satu saja contoh hasil output, hanya satu output !! dan dari satu output, berlanjut ke output2 Simpus yang lain yang lumayan membuat beliau tertarik hehe..

    nah belum lama ini saya juga ngobrol dengan seorang petugas pelaporan puskesmas. kebetulan bersamaan dengan acara pendampingan Simpus. saya kebetulan lihat kok laporannya juga sudah rapi, siap diantar ke dinas kesehatan kabupaten, padahal saya tahu persis kondisi di pkm tersebut seperti apa datanya. ketika saya tanya gimana mengumpulkan datanya (10 besar penyakit) dengan senyum pahit beliau menjawab “wah pak Jojok, saya jujur saja kalau data nya ngarang, habis gimana lagi…” temannya menambahkan “itu dengkulnya sampai lancip pak, ndengkul laporan semalam…”

    dan pahitnya, kejadian seperti itu sudah sering saya temui..belum lagi kalau kita lebih dalam lagi menilai, apakah proses pen-diagnosis-an dari pasien sudah sesuai dengan alur symptom2nya, apakah diagnosis ISPA yang membumi itu sudah benar2 ISPA, atau hanya sekedar diagnosis penampung untuk batuk pilek dan radang tenggorok?

    jadi… saya maklum kalau ada yang melontarkan pendapat bahwa data penyakit puskesmas adalah data sampah. dan hal ini paling tidak menjadi tantangan buat para pengembang Simpus untuk memperbaiki kondisi itu..

    gitu pak ??

  12. Wah menarik ..
    Mas Jojok ini sebenernya udah pas bikin blog sendiri .. itu diatas itu satu postingan sendiri dan saya yakin bakal banyak puskesmas yang menanggapi .. apalagi kalo dikasih judul kontroversial : DATA PUSKESMAS MEMANG DATA SAMPAH !!!
    Hehehehe …
    Aslinya saya bikin postingan tentang ini, tapi nanti dikira haluan kiri terus .. kok orang bisanya kritiiik terus .. urung saya turunkan. Eh dasar nasib entah mba Intan atau Mas Heri sendiri yang pinter banget ngilik-ngilik .. padahal pas waktu pak Sjahrir bikin tulisan itu saya dah tahan-tahan ngga gatel bikin tulisan tandingan .. weksss
    Nanti-nanti juga akan ketahuan siapa aja yang bikin data sampah .. pada waktu menerapkan sistem informasi manajemen puskesmas apapun bentuk dan programnya akan terlihat mana yang rela dapurnya kurang tebal kebulannya …

  13. alif ebooks

    sampah pun tetap bisa dimanfaatkan kalau pikiran kita positif. Bisa jadi pupuk.
    he…. he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s