Perhatian .. Perhatian ..

Standard

Anda yang sampai disini berasal dari googling, mohon meluangkan waktu untuk membaca juga disini, karena permasalahan mungkin baru jelas setelah semua dibaca. Trims.

ANANGBOEDI Sehubungan dengan banyak timbul salah pengertian akan adanya postingan di blog ini dengan judul Pelatihan SIMPUS Probolinggo, saya harus meluruskan beberapa hal agar tidak sepertinya sayah ini sama sekali nda mau akuran dengan dinas kesehatan kabupaten. Foto disebelah adalah foto Mas Anang pada saat pelatihan itu .. ngga ada hubungannya sih .. 🙂

Mohon anda yang membaca bersabar membaca tulisan ini sampai selesai baru berkomentar.

PERMASALAHAN

Yang pertama, saya menerima masukan begini :

  • Apakah saya sudah memikirkan bahwa saya ini bisa mengembangkan sistem informasi justru karena dibantu oleh dinas kesehatan, karenanya seharusnya saya tidak terlalu keras mengkritik dinas kesehatan?
  • Jangan sampai saya bikin ini seperti melawan kebijakan dinas kesehatan. Padahal sudah ada kesepakatan (MoU) untuk melaksanakan SIMPUS Ngawi.
  • Membeberkan ini di forum terbuka seperti internet, akan mengundang celaan dari banyak orang-orang. Bukankah lebih baik hal ini dibahas sebatas Institusi Dinkes saja.

Yang kedua, saya ditegur karena tidak menggunakan bahasa yang pantas.

PERMOHONAN MAAF

Untuk kedua hal diatas :

    • Saya sebagai KEPALA PUSKESMAS KREJENGAN memohon MAAF YANG SANGAT DALAM, bila dianggap mbalelo terhadap kebijakan dinas kesehatan.

      Sebagai PRIBADI, saya AGUS CIPTOSANTOSO NOTOKUWORO memohon MAAF YANG LEBIH DALAM LAGI bila perkataan saya sangat menyinggung hati seseorang secara pribadi yang membacanya.

      Bersama permohonan maaf ini saya sertakan beberapa klarifikasi dan penulisan ulang dari judul tulisan Pelatihan Simpus Probolinggo tersebut.

SEDIKIT(?) PENJELASAN

Saya rasa pada tempatnyalah bila saya harus menjelaskan apa yang saya tulis.

  • Saya terima salah bila disebutkan dengan “keras” mengkritik masalah-masalah teknis dan kebijakan. Mungkin ada yang baca di karakter golongan darah, [hehe nyari kambing hitam] mungkin ini sebabnya kali.

Ngomong-ngomong, saya pernah mengkritik bapak bupati di suatu kesempatan karena beliau mengeluarkan dua perda kesehatan yang belum bisa ditegakkan. Beliau dengan santainya jawab gini “ya begini ini pak dokter.. memang kita harus sabar” saya jadi malah kecut diomongin gitu .. hihi sepertinya saya ini orang yang nda sabaran gitu .. padahal kalo giliran memberikan laporan rutin ke dinkes, saya termasuk orang yang paling sabar lho [itu sih lelet namanya ..] kemaren waktu cangkru’an pertanyaan itu saya ulang lagi .. nada beliau tetap sama tapi sekarang agak tegas, “yak pak dokter, terima kasih, nanti akan kami tindak lanjuti penegakannya melalui satpol PP” Enak ya .. di level beliau kritik ditengah orang ramai begitu [ada dinkes propinsi, bapedda propinsi, kalangan pendidikan dan wartawan] sepertinya masukan yang pantas-pantas saja.

    jadi saya terima salah, tampaknya ini mendarah daging. Saya orangnya terbuka (extropert/extraverted). Tadi terbukti lagi satu kali di rapat dinas dengan ASKES. Saya ngomong agak keras sampe hos.. hos.. maklum masih usia-usia ngga bisa mengendalikan amusi .. soale udah jelas salah di mereka masih ngga mau juga ngaku salah, bikin gondok! ah itu masalah lain .. jadi gimana ya ? Baik, saya akan belajar lebih mengendalikan keterbukaan saya ..

  • Untuk urusan melawan dinas, saya harus protes bila ada yang bisik-bisik, kasak-kusuk menyatakan itu sebagai sikap saya! Atas dasar apa? Coba lihat di sini. Apakah karena saya menolak menjalankan SIMPUS Rawat Jalan dari Ngawi Probolinggo? Bukankah munculnya MoU antara Probolinggo dengan Ngawi adalah karena kita mau menggunakan Simpus KIA-nya. Saya tahu Simpus lainnya memang include, tapi tidak menutup peluang untuk memakai Simpus KIA-nya saja sebagai modul. Sedangkan untuk rawat jalan saya tetap menggunakan SIMPUS Rawat Jalan yang sudah lengkap dengan peta dan laporan-laporan yang juga dibelikan oleh Dinkes. Saya rasa itu tidak mengurangi hakikat dari pelaksanaan MoU. Saya malah ngga nemu di tulisan yang dipermasalahkan itu tentang penolakan saya terhadap Simpus Ngawi. Yang saya garis bawahi adalah akibat dari pemakaian 5-7 komputer yang harus bersamaan. Bukankah wajar bila ada kepala puskesmas yang mempertimbangkan sumberdaya yang ada untuk pelaksanaan program di puskesmasnya. Malah saya dianggap “menghina” pelatihan. Apakah kita sudah sedemikian tidak bisa menerima dikritik terhadap kekurangan? Ambil misal begini, bila saya menjalankan program inovasi di P2 TB Paru kemudian program itu diomongin kekurangan-kekurangannya (mau di tempat kuliah kek .. mau di ruangan p2pl saja kek) apa lantas itu disebut sebagai menghina program puskesmas .. kan ngga?! Harusnya kita malah bisa menyikapi itu sebagai masukan. Nah jangan pula gara-gara satu-dua orang yang nda nerima saya kritik .. lantas diplintir menjadi “hinaan”. Untuk yang satu ini saya tetap tidak terima kalo disalahin .. kita sama-sama ingin membangun kesehatan probolinggo, bukan saling tohok. Saya melaksanakan kegiatan semua atas dasar petunjuk dinas. Dan juga demi dinas. Kenapa malah dibentur-benturkan dengan Kabid-Kabid, terutama saya diadu dengan Pak Heri. Saya yakin bila beliau baca tanpa dihembus-hembus oleh suara-suara negatif, pasti hasilnya akan beda. Saya tahu pak Heri orangnya juga blak-blakan kok. Kok jadi gini? Seolah-olah mendiskusikan kebijakan sekarang adalah tabu, apa memang kita sudah sampai kesitu? Wah kalo gitu, saya salah memaknai pembaharuan ..
  • Kalo mau baca dari komentar-komentar yang ada mengikuti tulisan ini .. [ngga tahu diprintkan apa ngga?] .. kayaknya satu-satunya yang tidak sopan berbicara tentang kebijakan satu ini cuma mr.komet dari negeri antah berantah. Selain itu beliau ini nampaknya tidak membaca sampai tuntas, sehingga yang dikomentaripun luput. Mengakunya sih dari puskesmas ..  Yang begini ngga diminta pertanggungjawaban ya ?
  • Saya mohon maaf pribadi kepada Bapak Heri Subagyo karena masalah menggunakan bahasa yang dianggap tidak pantas. Menurut beliau petatah-petitih itu seperti mengsla-mengsle, atau sesuatu yang artinya tidak baik. Dan penggunaan kata boss yang tidak pada tempatnya.
    Di tulisan aslinya sudah saya strike semua. Saya menggunakan petatah petitih di tulisan itu dengan maksud sebagai kata pembuka, petuah dan pengantar. Mohon dibandingkan dengan 3 tulisan d
    ibawah ini yang juga menggunakan kosa kata yang sama. Sumber saya cantumkan.

Reinterpretasi itu penting, sebab kearifan lokal yang berbentuk petatah-petitih dan kata-kata mutiara yang dimaknai oleh leluhur kita di masa lalu. Pemaknaan kearifan lokal oleh para leluhur kita itu tentulah mereka sesuaikan dengan konteks zamannya.

Sejak 30 tahun terakhir, makin banyak kosakata, frase, idiom, dan petatah-petitih Bahasa Minangkabau yang tidak terpakai lagi dan berangsur lenyap, yang merupakan bagian dari kekayaan Bahasa Minangkabau.

Hadih maja itu petatah petitih dalam bahasa Aceh, hampir sama dengan pameo. isinya sangat filosofis, tak bisa diatrikan hanya secara tersurat, tapi juga mengandung makna tersirat.

    dan masih banyak penggunaan petatah petitih lainnya.

    tentang penggunaan istilah boss saya rasa mungkin bila bacanya ngga pake emosi membara pasti bisa dirasakan lain .. soale saya rasanya kesemua orang ya begitu .. ke Mas Anang, sesama ka PKM, tapi lebih senior dari saya ya saya panggil boss, ke Wawan, lebih muda dari saya, tapi kita sering becandaan ya saya panggil boss juga. Ke cakmoki saya panggil boss palaran, padahal saya ngga pernah ketemu sama beliau. ke Mas Dhani, Mas Huda dan Mas Anis, yg lebih muda dari saya, saya juga panggil mas dan boss sekali-sekali. So saya sih memaknainya sebagai rasa hormat saya karena kelebihan yang mereka punya. Tapi untuk amannya saya strike semua boss di tulisan itu ..

Sekali lagi, tidak ada maksud mengkhianati program di dinas kesehatan bila saya menulis disini. Blog adalah catatan pribadi. Saya hanya menuangkan pikiran saya layaknya buku harian. Prinsip umum yang berlaku dalam blogging adalah : kalo ngga suka ngga usah lihat lagi tulisan disini lagi. Karena kalo anda datang terus kesini yang punya blog malah tambah senang karena anda memberikan traffic kepada blognya. Otomatis ranking saya di pencarian Search Engine seperti Google akan meningkat utk keyword tertentu.

Tapi satu pelajaran berharga buat saya ..  bahkan dengan bahasa yang menurut saya sopan [dan terbukti dari budaya sunda ataupun padang] karya tulis bisa tidak sama interpretasinya.

Terimakasih untuk perhatian.

Advertisements