Mortarku Diparkir ..

Standard

Mortar Diparkir

Ya, sudah lama pengen nulis ini, bersama satu topik lagi yang masih jadi angan-angan mo ditulis, ponari.

Masalah Puyer sudah begitu berkembang sehingga menjadi tidak nyaman manakala harus menjelaskan dengan memihak satu sisi. Saya akan coba untuk tidak memihak dalam tulisan ini .. ah tapi saya manusia biasa

 

1. Masalah Polifarmasi
2. Masalah Hygienis
3. Masalah Sisa Pada Mortar dan Dosis Tidak Sesuai
4. Masalah Interaksi Antar Obat
5. Masalah Efek Samping Salah Satu Komponen
6. Masalah Harga Obat

Masalah Polifarmasi

cps6 Puyer disebutkan sebagai membuka kemungkinan terjadinya peresepan obat yang banyak sekali dan tidak perlu. Bila kita mau jujur dengan obat kapsul atau dengan syrup pun bisa saja terjadi polifarmasi. Apakah dengan puyer jadi lebih banyak, jawabannya sepertinya kembali pada individu dokter yang meresepkan.

Dan bahkan di Luar Negeri yang dibangga-banggakan dalam tayangan itu pun tidak lepas dari kemungkinan ini .. tidak sedikit cerita dari teman, pasien yang sudah nyicipin berobat di Singapore misalnya dan mendapatkan 7-8 macam obat.

Sebagai kebalikannya saya dulu malah cuma meresepkan 2 – 3 macam obat untuk dipuyer.  Jadi tuduhan polifarmasi tampaknya harus betul-betul dikaji ulang.

Masalah Hygienis

puyer BPOM mengeluarkan aturan tentang bagaimana membuat obat secara massal. Cara Pembuatan Obat yang Baik. Ingat ini adalah aturan untuk obat massal, puyer tentu saja tidak termasuk di dalamnya. Namun demikian segi kebersihan memang tidak bisa ditawar untuk penyediaan obatt. Tapi apakah ini hanya berlaku untuk puyer? Nanti dulu .. bagaimana dengan syrup apa lantas tidak mungkin terjadi kontaminasi ?

Bagaimana dengan fakta bahwa puyer memungkinkan terjadinya kontaminasi, saya rasa ini juga harus dikembalikan kepada masing-masing apoteker. Lihat apakah betul yang dilakukan oleh apoteker, dan itu absurd untuk digeneralisir. Belum lagi kenyataan berapa banyak di Indonesia ini apotek yang bener2 dijagain sama apotekernya? Jangan-jangan cuma pajang nama dan terima gaji buta tiap bulan. Sementara yang kerja disana AA (asisten apoteker) atau bahkan lebih nelangsa lagi SMA yg ngga ada kerjaan atau karena hubungan keluarga. Jadi pekerjaan tidak standarnya juga karena memang tidak ada kompetensi.

Masalah Sisa Pada Mortar dan Dosis Tidak Sesuai

Juga disebutkan dalam kontroversi puyer ini adalah puyer mungkin salah takar karena tersisa di mortar atau alu penumbuknya. Hmm .. betul juga. Beberapa kali saya dulu sempat mencontohkan kepada staf di Apotek kami mencuci mortar yang sudah dipakai.

Apakah itu yang ditakutkan .. meskipun ada terjadi saya rasa berlebihan kalau ditakutkan merubah takaran dosis. On the contrary, bagaimana dengan menakar sediaan sendok syrup yang tidak standar, tumpah sebelum masuk mulut, diludahkan karena rasanya tidak enak. Ah kan jadinya banyak faktor yang harus dikhawatirkan mengenai dosis. Dan rasanya berlebihan kalau ini yang dijadikan masalah. Di setiap obat ada yang disebut margin safety. sehingga obat yang digunakan misalnya bisa sedikit berada diatas angka hitungan dosis selama masih aman. Ini juga yang ditemukan oleh penelitian tentang jumlah obat di syrup, saya lupa siapa penelitinya, tapi seingat saya seharusnya obatnya ada dalam jumlah belasan gram, tapi dipermudah dengan memberikan sebanyak puluhan. Dan itu penelitian di syrup lho. Notebene yang disebutkan sebagai dosis terukur.

Masalah Interaksi Antar Obat

rx_img

Obat yang berinteraksi tidak hanya ada di Puyer tapi di segala macam jenis sediaan, tidak adil rasanya menghakimi puyer hanya karena mengetahui bahwa puyer terdiri dari berbagai zat obat di dalamnya. Bagaimana dengan yang mengkonsumsi obat beraneka ragam ?

Interaksi obat adalah tugas dokter untuk mencarikan yang tidak menyebabkan bahaya. Bila terjadi interaksi antara obat dan nekat diberikan juga itu sih bukan karena sediaannya yang salah, tapi dokternya yang memberikannya tanpa kompetensi.

Masalah Efek Samping Sulit Dideteksi

obat Apa susahnya meminta kopi resep? Sama saja kan dengan tulisan di dinding botol syrup? Dan itu hak pasien. Kalo kita minta kopi resep harus dibuatkan.

Ngga ada yang ngga bisa dideteksi. Kalau masalahnya sulit menentukan efek samping dari komponen yang sama, wajar ! karena anda tidak belajar efek samping obat. Tanyakan kepada dokter yang meresepkan atau second opinion apakah efek samping yang tiba-tiba timbul dalam pengobatan suatu penyakit berasal dari salah satu obat yang diresepkan. Tidak peduli itu sediaannya puyer, pil atau syrup.

Masalah Harga Obat

money_tree5 Nah ini yang agak-agak menyebalkan .. bayangan obat dengan harga mahal tentu aja bukan bergantung sediaan. Puyer meskipun bisa menggunakan obat-obat paten yang mahal tapi juga menggunakan dalam jumlah sedikit. Bagaimana dengan yang selalu meresepkan dengan 1 R/ bisa ratusan ribu ? Mintalah untuk meresepkan dengan obat generik, kalau anda merasa keberatan membayar mahal. Apakah anda tahu harga syrup bahkan lebih mahal ? Sama saja .. kalau anda diberi syrup generik juga pasti bisa murah. Jadi harga harus dipertanyakan mesti dikontroverikan? Di Puskesmas saya, setiap pasien periksa dikenakan retribusi 3.000,- dan bila diresepkan puyer maka menurut perda retribusi ditambah lagi dengan 2.000,- padahal sekarang obat yang disediakan sudah mulai bagus-bagus. 5.000! Mahal ? 😦

Pendapat Saya

Pertama, saya sebel sekali lihat tayangan itu. Karena di dalamnya ada pembocoran rahasia pasien, meskipun itu dianggap sebagai pengungkapan, tapi tidak etis. Entah karena profesi saya yang “dikerjai”, tapi saya ngga suka RCTI melakukan itu kepada teman sejawat saya.

Kedua saya heran dengan kenyataan memilih bentuk sediaan obat yang ingin diresepkan dipermasalahkan, bukankah sekarang sudah zamannya konsumen diutamakan. Sepanjang tentu saja itu tidak menyalahi aturan dan keilmuan. Kalau ada pasien datang dengan Gastritis Akut dan minta diresepi Asam Mefenamat dan Dokternya nurut, coba dicek lagi itu dokter atau bukan. Tapi kalo yang diminta adalah sediaan puyer atau syrup saya rasa sudah sewajarnya didengarkan. Dilaksanakan sepanjang itu masih benar berdasarkan faktor-faktor diatas yang sudah kita bicarakan/

Ketiga, bila pertanyaannya ditanyakan kepada saya, apakah anda akan meresepkan puyer? Ah anda kan sudah tahu, mortar saya sudah diparkir, saya akan memilih syrup karena lebih mudah, tapi saya juga tidak akan menghakimi TS saya yang masih menggunakan puyer. Saya justru tidak akan pergi ke dokter anak yang memusuhi ‘sodara’ sendiri untuk mengkonsulkan anak saya yang sakit, misalnya. Huh!

post ini dibuat dengan windows live writer ® yg dapat anda temukan di blog pom | hkn | idi | pkm

Advertisements

2 thoughts on “Mortarku Diparkir ..

  1. setuju aja deh…

    yang sebel lagi, sekarang RCTI tidak bertanggung jawab, membiarkan polemik ini tanpa penyelesaian. Begitu ya media kita ini, cuman mengejar ratting, dihalalkan segala cara.

    • jreng .. jreng .. jreng ..
      genderang ditabuh ..
      dua orang dokter tidak setuju dipojokkan media
      hihihihihi .. ngga lah ..
      proporsional aja .. kalo terang-terang jahanam kayak aborsi itu
      ya saya juga ngga nyalahin .. itu kan emang melanggar ..
      Tapi kalo masalahnya aja masih jadi perdebatan
      apakah salah atau benar .. saya rasa sebaiknya ngga begitu di blow up

      hhhhh ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s