Perjalanan Penyakit Gizi Buruk

Standard

Seorang anak bisa menjadi gizi buruk bisa berada dalam 3 tahap :

  1. Status Gizi Normal
    1. Ibu tidak mengetahui makanan yang tepat untuk diberikan pada balita.
    2. Anak balita terpajan dengan iklan panganan ringan yang tidak bergizi.
    3. Asupan buat anak tidak diistimewakan sebagaimana yang dipersiapkan untuk ayah atau ibunya.
    4. Tidak rutin datang ke Posyandu.
      Pada saat seperti ini anak masih berada dalam keadaan status gizi normal, namun berpotensi mendapatkan gangguan gizi. Pada usia < 6 bulan sebagian besar bayi (> 80%) masih disusui ibu. Dengan menetek, anak mendapatkan gizi yg seimbang & zat kebal dari asi anak jarang sakit pertumbuhan anak masih baik.
  2. Status Gizi Kurang / Menurun (Fase Gangguan Gizi)

    Pada saat ini balita mengalami gangguan gizi, ini terjadi karena tidak terpantaunya berat badan anak.

    Pada usia 6 bln – 12 bln sebagian bayi sudah mulai disapih perlindungan zat kebal dari asi mulai berkurang & pemberian mp-asi kurang memenuhi syarat : jenis, jumlah, jadwal, higienis (3j-1h). Anak mudah jatuh sakit dan pertumbuhan mulai terganggu.

  3. Status Gizi Buruk

    Pada saat ini status anak makin memburuk dan sudah menampakkan gejala-gejala penyakit. Anak sudah terlihat kurus sampai dengan sangat kurus. Pada saat ini anak rentan terhadap hawa dingin, khususnya pada bayi bisa berakibat kematian. Anak juga mengalami kekurangan energi (glukosa darah menurun) dan kekurangan protein. Pada beberapa kasus yang severe tidak hanya pembentukan otot yang gagal bahkan sampai dengan pembentukan otak bisa tidak terjadi (microcephali). Kematian bisa terjadi di tahap ini, bisa karena berbagai sebab.

Step 01

Cara melakukan perbaikan tentu saja mengikuti pola penanganan uang komprehensif yakni : Kegiatan kuratif dan rehabilitatif dan Kegiatan Promotif Preventif. Pada kegiatan Promotif dan Preventif yang mencegah anak menjadi makin jatuh kedalam status yang lebih parah antara lain adalah :

  1. Penyadaran masyarakat secara keseluruhan dengan bentuk promosi yang menarik tentang adanya kasus gizi buruk yang kemungkinan terjadinya berasal dari ketidaktahuan ibu akan pemberian makanan yang bergizi. Hal ini dimaksudkan untuk menggugah masyarakat untuk mencoba mencari tahu bagaimana makanan yang bergizi. Media yang bisa digunakan :
    1. Spot Iklan
    2. Poster
    3. Baliho dll
  2. Penyadaran sasaran (ibu) untuk konsumsi yang baik bagi balitanya melalui media bacaan ringan, penyuluhan di posyandu dan PMT (pemberian makanan tambahan) Penyuluhan. Di dalamnya bisa diberikan menu-menu pilihan lokal yang lebih mungkin diberikan oleh ibu baik dengan taraf ekonomi mampu maupun miskin.
    1. Metode yang cukup berhasil disini adalah Positive Deviance. Saat ini FKM UI sedang mengembangkan kelembagaannya.
    2. Perkumpulan ibu bisa digunakan untuk menyebarkan cara ini : PKK, Arisan dan Pengajian.
  3. Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu. Hal yang termasuk dalam kegiatan ini antara lain adalah :
    1. Revitalisasi Posyandu yang tidak aktif.
    2. Pengadaan paket perangkat untuk PMT penyuluhan yang berupa alat memasak tertentu bagi posyandu yang sudah sanggup melaksanakannya.
    3. Pelatihan kader Pos Pelayanan Gizi. Tidak semua posyandu telah dilatih masalah ini.
  4. Pemberian Suplementasi. Termasuk dalam suplementasi antara lain adalah : Vitamin, Mikronutrien (Fe, Zink dll).
  5. Pencarian penderita Gizi Buruk, Gangguan Gizi (T pada KMS) dan BGM serta penyakit menular yang berpotensi menjadi gangguan gizi (tuberkulosis, diare dll)
  6. Untuk masyarakat miskin bisa diberikan merata baik yang terkena gangguan gizi maupun tidak adalah MP ASI untuk usia 6-24 bulan (bubur susu) dan usia 24-59 (biskuit)

Pada kegiatan Kuratif dan Rehabilitatif antara lain bisa berupa :

  1. Penanganan Gizi Buruk di Unit TFC (Therapeutic Feeding Center) yang dilakukan di TFC. Untuk ini ada petunjuk teknis tersendiri untuk petugas baik di Puskesmas maupun RS.
  2. Penanganan Lanjutan di CTC (Community-based Therapeutic Center)
    1. PMT Pemulihan 26 Minggu atau sampai tercapai z-score >-1
    2. Penyuluhan Makanan Lokal dengan pendekatan Positif Deviance
    3. Penghargaan bagi ibu dan balita yang sudah lulus.

Teman-teman sekalian, pemerhati gizi buruk, dalam melakukan kegiatan promotif tentu saja banyak cara lagi yang bisa dilakukan sesuai dengan yang pernah kita bahasa sebelumnya dari berbagai sudut pandang profesi teman-teman sekalian. Selamat membaca, silahkan menambahkan komentar. Salam

Advertisements

9 thoughts on “Perjalanan Penyakit Gizi Buruk

  1. Pola penanganan permasalahan gizi buruk, dilihat dari beberapa kasus yang tejadi, lebih pada penanganan yang bersifat kuratif. Kesan yang muncul, adanya “proses pembiaran” bahwa gizi buruk bukan suatu penyakit yang harus ditakuti, tapi karena proses alamiyah dari “ketidakberdayaan” masyarakat yang notabene hidup di bawah garis kemiskinan.
    Fakta di lapangan, mereka yang terkena permasalahan ini rata-rata berasal dari keluarga yang latar belakang pendidikannya rendah, tidak memiliki job yang jelas, tempat tinggal jauh dari memadai, lingkungan kotor, dan lain-lain.

    Hemat saya, tindakan preventif bisa menjadi menjadi solusi dalam meminimalisir gizi buruk ini. Tapi hal ini tentunya tidak bisa dilakukan secara “single fighter” saja, melainkan harus ada sinergitas antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang memiliki komitmen terhadap peningkatan kualitas hidup bangsa ini. Secara teknis operasional, bisa: 1) “menghidupkan kembali jiwa-jiwa voulentarism”, melalui berbagai kegiatan penyadaran masyarakat. Mereka dibekali dengan pengetahuan (teori dan praktek) yang bersifat implementatif. 2) karena “gizi buruk” lebih banyak dialami oleh masyarakat yang rentan, perlu ada pendekatan yang memacu peningkatan kapasitas diri (pendidikan dan keterampilan), peningkatan ekonomi produktif, pelibatan dalam setiap kegiatan, dll.
    Selain itu, secara sistemis, arah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tetap mendorong pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Catatan : penyadaran gizi buruk, jangan dikhususkan bagi kaum hawa (ibu)……..

    • Saya setuju dengan mas Usman, kebetulan saya terjun langsung ke lapangan khususnya di daerah pandeglang banten. kalau melihat banyak kasus disini kurangnya dukungan dari pemerintah maupun dari non pemrintah yang concern terhadap penanganan kesehatan anak khususnya gizi buruk. karena sekarang di posyandu pun yang dulunya ada program PMT sekarang justru menghilang. cuma saya sendiri merasa masih kurang/minim dengan ilmu dan pengalaman tentang keshatan anak. trima kasih…

      • PMT kalau bukan dari masyarakat sendiri memang kurang sehat dari sisi pemberdayaannya pak. Sekarang berubah bentuk menjadi kegiatan PD. Tapi mungkin belum semua daerah melaksanakan. Lha wong yang dulu aja banyak yang belum. Trims

    • Betul pak. Memang kalo sudah terjadi kasus Gizi Buruk, yang harus dilakukan adalah pendekatan kuratif. Karena intinya adalah mengembalikan anak kepada kondisi yang sehat dan optimal.
      Untuk Preventif Promotif memang harus dilakukan selalu saat ini .. dan mungkin sampai orangtua dari anak-anak Indonesia ini benar2 terbiasa dengan cara hidup sehat yang diterapkan kepada anak-anaknya dan terus ditularkan ilmunya kepada buah hatinya itu ..

      Sedangkan untuk sasaran pemberdayaan .. memang untuk idealnya semua. Tapi pada saat kita memilih prioritas, ibu adalah keharusan, saya rasa.

  2. hendra

    jika berbicara gizi buruk tentu tidak akn terlepas dari persoalan kemiskinan yang masih menimpa negeri ini. Kemiskinan lah yang menjad pangkal permasalahan tersebut yang hingga saat ini seolah tidak ada blue print program pengentasan kemiskinan dari pemerintah yang meskipun mengklaim telah banyak mengeluarkan progran yang berbasiskan kerakyatan macam BLT, KUR dan program lainnya tidak juga dapat mengurangi kemiskinan di Indonesia.

    • Saya akan ikut pendapat Anung di bawah ini .. bagaimanapun bukan cuma kemiskinan yang menjadi penyebab. Karena ini lingkaran setan dengan pendidikan dan prilaku hidup sehat. Tapi saya setuju ini harus dikomandani dari pemerintah.

  3. Anung

    Saya ikut prihatin dengan maraknya kasus gizi buruk ini. Menurut saya penyebabnya lebih dari sekedar kemiskinan, sebab kasus gizi buruk juga banyak ditemukan pada keluarga mampu. Coba perhatikan di sekeliling kita, juga pada keluarga kelas menengah ke bawah ataupun pada keluarga menengah atas. Makanan apa yang diberikan pada bayi usia 6 bulan. Umumnya masih berkisar pada MP ASI buatan pabrik seperti Cerelac, Promina, MILNA, dsb. Padahal, bubus susu seperti itu memang perlu diperkenalkan pada bayi mulai usia 5 bulan, 1x sehari. Tapi begitu memasuki usia 6 bulan, mestinya bayi sudah mulai diberi bubur saring lengkap gizi, yakni bubur yang dimasak sendiri dan dilengkapi dengan sayuran (bayam dan wortel, misalnya) dan lauk (daging giling, ayam, hati ayam, dsb), dan setelah matang disaring. Bubur seperti ini mestiny diberikan hingga bayi berusia 9 bulan bulan, Setelah itu, selama 9 – 12 bulan, bayi sudah bisa diberi nasi tim lunak. Memasuki usia 1 tahun, anak sudah bisa diberi makan lengkap gizi seperti orangtuanya.

    Hingga pertengahan tahun 80-an, ibu muda yang melahirkan di RS atau tempat praktek bidan, masih diberi tabel berisi jadwal makan bayi seperti ini. Tapi sejak awal 90an, tabel ini tidak lagi diberikan, baik oleh dokter maupun bidan.

    Padahal ini adalah bentuk penyuluhan paling mendasar yang diperlukan oleh seorang ibu muda – miskin ataupun kaya. Banyak teman-teman saya sendiri, yang lulusan S2 sekalipun, tidak memiliki pengetahuan tentang makanan bayi ini. Apalagi perempuan (dan juga laki-laki) dengan tingkat pendidikan rendah, yang sejak dari keluarganya memang tidak ada tradisi membaca dan mencari pengetahuan di luar dari apa yang diberikan di sekolah.

    Jadi, saya rasa penyebabnya lebih mendasar lagi:
    1. Kualitas pendidikan sekolah kita sudah jadi sangat buruk, sehingga tamat SMA pun, kita tidak memiliki pengetahuan dasar tentang nutrisi penting bagi tubuh kita sendiri.
    2. Kualitas pelayanan kesehatan kita mengalami penurunan yang sangat drastis, sehingga “semangat penyuluhan” yang dulu ada pada setiap dokter dan bidan sekarang sebagian besar sudah hilang.
    3. Keadaan ini diperburuk dengan hilangnya “komunikasi” di antara dokter/bidan dengan pasien. Karena harus mengejar target penghasilan per hari yang besar, para praktisi kesehatan cenderung terburu-buru ketika melayani pasien, sehingga pasien tidak memiliki (dan tidak diberi) kesempatan untuk bertanya dan “mengobrol”.

    Maka dari itu, perlu pemikiran bersama untuk mencari suatu pemecahan masalah yang komprehensif dalam menangani gizi buruk di Indonesia. Para orang tua dan calon orangtua perlu didorong untuk belajar, membaca, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

    Sementara kita sedang sama-sama ber[ikir, mari kita lakukan kerja-kerja voluntir untuk membantu masyarakat, paling tidak yang terdekat dengan lingkungan rumah kita atau lingkungan kawan-kawan kita. Lakuka penyadaran bahwa menjadi orangtua itu bukanlah pekerjaan mudah, sehingga perlu belajar dan terus belajar.

    Semoga buah renungan saya ini bermanfaat.

    Salam,
    Anung

    • Ya betul, memang ngga jauh dari itu .. dan jangan lupa masih banyak sektor-sektor terkait lainnya : Pertanian, Ketahanan Pangan, Ekonomi dan Penyediaan Lapangan Kerja, Di Kesehatan sendiri tenaga yang ditempatkan di daerah terpencil itu jarang ada yang mau dan itu berarti akses berkurang.
      Sulit memang. tapi kita tidak berhenti di penyebabkan ? Mari bertindak untuk menyelesaikan masalah ini.

  4. wiharto

    saya mempunyai masalah dengan ponakan saya. saya kasihan melihat ponakan saya kata dokter dia menderita gizi buruk walapun sudah coba ke beberapa rumah sakit tetapi tidak ada perubahan juga. kami juga pernah coba dengan jalan alternatif tetapi hasilnya nihil sampai sekarang belum ada perubahan sama sekali. umur keponakan saya 1 tahun tapi berat badannya cuma 3 kg dan perkembangan fisiknya masih seperti bayi yang baru lahir belum bisa apa-apa. padahal selain makan dia juga minum susu formula apabila rekan-rekan pernah mempunyai pengalaman yang sama atau solusi tolong berbagi cerita kami butuh bantuan rekan rekan. atas saran atau solusinya kami ucapkan banya-banyak terimakasih. tolong saran kirim ke email wiharto.anto@gmail.com`

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s