Gizi Buruk dan Kecerdasan

Standard

Bahwa gizi buruk akan berpengaruh terhadap kecerdasan bila terus ada adalah hal yang selalu kita dengungkan di cause, tapi bahwa itu berakibat permanen bahkan bagi yang sudah ditanggulangi benar-benar membuat saya kembali bersemangat untuk mempromosikan cause ini dan menulis beberapa yg menjadi pertanyaan teman-teman segenap pemerhati cause gizi buruk ini.

Pengaruh Status Gizi Anak Usia di Bawah Lima Tahun terhadap Nilai Belajar Verbal dan Numerik

Tulisan ini saya temukan di majalah KESMAS Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, sebuah jurnal 2 bulanan yang diterbitkan oleh FKM-UI. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh R. Djarot Darsono, Wahyu Hartanto dan Nasrin Kodim, mengemukakan studi kohort retrospektif yang mereka lakukan dilakukan untuk mengetahui hubungan status gizi anak dibawah 3 tahun dengan prestasi belajar verbal dan numerik.  Studi dilakukan terhadap pencatatan penimbangan anak balita yang tersedia di Puskesmas, catatan hasil ujian harian di Sekolah Dasar Kabupaten Tangerang. Dibawah ini adalah cuplikan dari penelitian tersebut [ langsung ke kesimpulan ]:

Standar baku tentang kategori nilai berbagai mata pelajaran di Sekolah Dasar belum tersedia, sehingga peneliti menggunakan acuan Badan Standar Nasional Pendidikan untuk nilai standar kelulusan Ujian Akhir Nasional.Gizi kurang pada saat usia baduta, secara statistik berhubungan bermakna dengan prestasi belajar verbal yang rendah (OR=6,5; 95% CIOR=3,59-12,03) dan prestasi belajar numerik yang rendah.

Nilai OR pada anak dengan status gizi kurang pada saat usia baduta jauh lebih besar daripada status gizi kurang pada saat usia setelah baduta atau status gizi kurang saat usia sekolah. Hal ini kemungkinan mengindikasikan bahwa usia baduta merupakan usia yang sangat krusial dalam perkembangan jaringan otak manusia. Anak dengan gizi kurang dapat mengalami berat otak, jumnlah sel, ukuran besar sel dan zat-zat biokimia lainnya yang relatif lebih rendah daripada anak normal. Semakin muda usia anak ketika menderita gizi kurang, semakin parah dampak yang ditimbulkannya. Keadaan akan semakin parah bila anak sudah mengalaminya sejak janin masih dalam kandungan (hubungan dengan BBLR). Kemunduran mental yang diakibatkan oleh keadaan gizi kurang yg berat dapat bersifat permanen, sehingga akan menjadi beban keluarga secara berkepanjangan.

PENGARUH GIZI KURANG PERIODE BADUTA

Di dalam populasi, status gizi yang kurang pada saat anak berusia baduta berkontribusi 44% terhadap terjadinya prestasi verbal yang rendah dan 80% terhadap prestasi numerik yang rendah. Itu berarti bahwa apabila status gizi pada usia baduta dapat terpelihara pada tingkat normal, maka ada sekitar 44% anak dapat diselamatkan dari prestasi belajar verbal yang rendah dan 80% anak terselamatkan dari prestasi belajar numerik yang rendah.

Dengan demikian upaya meningkatkan status gizi anak terutama baduta merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia.

PENGARUH GIZI KURANG PERIODE PASCA BADUTA

Status gizi yang kurang pada saat anak berusia setelah baduta berkontribusi 30% terhadap terjadinya prestasi verbal yang rendah dan 63% terhadap prestasi numerik yang rendah. Itu berarti bahwa apabila status gizi pada usia setelah baduta dapat terpelihara pada tingkat normal, maka ada sekitar 36% anak dapat diselamatkan dari prestasi belajar verbal yang rendah dan 60% anak terselamatkan dari prestasi belajar numerik yang rendah.

PENGARUH TAMAN KANAK-KANAK

Secara multivariat, ternyata anak yang tidak pernah mengikuti pendidikan di TK hanya mengalami prestasi numerik yang rendah. Pengaruh terhadap prestasi numerik tersebut kemungkinan disebabkan oleh perangsangan sistem mental aritmatik yg dapat mengoptimalkan fungsi otak. Dalam populasi, kontribusi pendidikan pra SD adalah 12%.

PENGARUH GIZI TERKINI

Gizi terkini adalah status gizi anak pada saat penjaringan di sekolah dasar yang berpengaruh terhadap prestasi verbal yang rendah, tapi tidak berpengaruh terhadap prestasi numerik. Besarnya dampak prestasi belajar verbal rendah yang dapat dicegah pada populasi apabila anak tidak mengalami status gizi kurang pada saat usia sekolah adalah 9%.

PENGARUH ANEMIA PADA ANAK SEKOLAH

Anak dengan anemia lebih besar mengalami prestasi verbal yang rendah. Tapi tidak berpengaruh terhadap prestasi numerik. Kontribusi anemia terhadap terhadap terjadinya prestasi verbalyang rendah adalah 8%.

PENGARUH PENDIDIKAN IBU

Pendidikan ibu memperlihatkaan efek modifikasi dengan variabel independen utama status gizi saat usia balita yang berpengaruh terhadap prestasi verbal. Pada analisis multivariat, pendidikan ibu yang rendah berpengaruh sangat kuat terhadap prestasi belajar verbal yang rendah dan prestasi numerik yang rendah.

Ibu yg mengasuh bayinya secara langsung akan memberikan rangsangan inspirasi (imprinting stimulus) yang berguna untuk membangkitkan kecerdasan anak. Pola pengasuhan anak berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan, makin baik pola pengasuhan. Lingkungan keluarga terutama terutama tingkah laku dan sikap orangtua merupakan faktor yang sangat penting bagi kecerdasan seorang anak, khususnya pada tahun-tahun pertama kehidupan. Lebih lanjut, anak mengidentifikasikan dirinya dengan anggota keluargayang disayanginya dengan cara meniru tingkah laku diri dan lingkungan. Interaksi yang bersifat multivariat positif antara status gizi saat balita dengan pendidikan ibu terhadap prestasi verbal yang rendah sesuai dengan temuan tersebut.

Pendidikan ibu yang rendah (<SMA) berkontribusi 90% terhadap prestasi verbal yang rendah dan terhadap prestasi numerik yang rendah (87%). Itu berarti peningkatan pendidikan ibu menjadi menjadi mencapai lebih tinggi atau sederajat dengan SMA akan menurunkan frekwensi anak dengan prestasi verbal dan numerik rendah masing-masing 90% dan 87%.

KESIMPULAN

  1. Pengaruh Gizi Kurang Pada Usia Baduta berpengaruh terhadap prestasi verbal 44% dan numerik 80%
  2. Pengaruh Gizi Kurang Pada Usia Setelah Baduta berpengaruh terhadap prestasi verbal 36% dan numerik 60%
  3. Taman Kanak-Kanak berpangaruh terhadap prestasi numerik rendah 12%
  4. Gizi Terkini anak sekolah berpengaruh terhadap prestasi verbal rendah 9%
  5. Anemia Anak Sekolah berpengaruh terhadap prestasi verbal yang rendah 8%
  6. Pendidikan Ibu SMA dan sederajat berpengaruh 90% terhadap prestasi verbal dan 87% terhadap prestasi numerik.

Ulasan saya

Hal diatas sebenarnya sudah bisa kita duga apabila pengertian tentang gizi buruk dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak terutama dalam organ otak. Namun memberikan kejelasan secara statistikal kepada kita sampai dengan besar pengaruhnya. Beberapa kegiatan sudah dilaksanakan untuk menanggulangi masalah ini. Namun mungkin kali ini perlu penekanan ulang bagaimana hal tersebut dilaksanakan di desa-desa.

  1. Menjaga Status Gizi Balita

    Tidak kurang dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan puskesmas dan sektor lainnya yang bersama-sama antara lain seperti : revitalisasi posyandu, penyuluhan kepada masyarakat, mengaktifkan klinik konsultasi gizi, kunjungan rumah oleh kader, petugas kesehatan atau pelaksanaan program pemberian makanan tambahan (PMT).
    Upaya lain yang membantu komprehensifnya pencegahan ini juga sudah beberapa dikemukakan di blog ini : seperti pemanfaatan lahan, Promosi Sayuran Hijau dan Otonomi Nutrisi, sektor ekonomi, sektor budaya dan beberapa tindakan nyata lainnya.

  2. PAUD dan TK

    Sekarang bukan saja Taman Kanak-Kanak, tapi sejak usia dini (6 bulan-4 tahun) di desa-desa sudah mulai dikembangkan pendidikan untuk segmen usia tersebut. Hal ini tentu saja membantu memberikan stimulasi yang terarah dan tepat kepada balita, yang mungkin belum bisa dilakukan oleh orangtua. Seiring dengan itu di Puskesmas sendiri ada Deteksi Dini Tumbuh Kembang yang bertitik berat pada stimulasi tumbuh kembang oleh orangtua.

  3. Gizi Anak Sekolah

    Kerjasama Puskesmas dan Dinas Pendidikan Nasional melahirkan beberapa terobosan dalam hal ini. Antara lain adanya status antropometri anak dalam bentuk KMS anak dan remaja, Kantin Sehat, PMT-AS (beberapa daerah), dan lainnya.

  4. Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun

    Pendidikan dasar kita sementara ini hanya sampai dengan SMP. Mungkin hasil penelitian ini patut dipertimbangkan untuk menggeser usia menjadi lebih jauh ke SMA dan sederajatnya.

Nah seberapa besar kegiatan itu dilaksanakan konsisten dan komprehensif oleh semua sektor di wilayah kerja masing-masing, itu mungkin yang menjadikan balita kita terhindar dari gizi buruk dan pada akhirnya menghasilkan generasi yang terbebas dari penurunan prestasi belajar verbal dan numerik atau generasi Indonesia yang handal.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s