Kegiatan Penanggulangan Gizi Buruk

Standard

Sudah agak lama saya tidak update masalah gizi buruk, baik di blog maupun di cause. Meski begitu saya menjadi kepala institusi yang bisa langsung berhadapan dengan kasus-kasus sehingga setiap tahun saya pasti punya kegiatan yang langsung bersentuhan dengan penderita. Saya akan cerita tentang kegiatan di puskesmas saya yang berkaitan dengan penanggulangan gizi buruk di Kecamatan Krejengan. Foto-foto dari kegiatan ini saya update berdasarkan pelaksanaan kegiatannya.

Dua tahun ini kami selalu menganggarkan kegiatan penanggulangan gizi buruk dengan format kegiatan seperti ini :

  1. Penemuan Kasus Gizi Buruk
  2. Penatalaksanaan Kasus Gizi Buruk
  3. Pencegahan Kasus Gizi Buruk

Penemuan Kasus Gizi Buruk

Sebagaimana yang tercantum dalam buku petunjuk teknis kegiatan ini dilaksanakan sebagai berikut :

  1. Balita hasil penimbangan di Posyandu yang berat badannyan berada Bawah Garis Merah (BGM) di KMS dikumpulkan datanya dari tiap desa. By Name.
  2. Dengan menggunakan Ambulance Desa, secara bergiliran dalam 4-6 hari kami melakukan rujukan ke Puskesmas Induk untuk dilakukan antropometri ulang. Seringkali pengukuran yang dilakukan kader juga ada yang keliru. Tahun 2008 data BGM di desa ada 307 tapi setelah di antropometri ulang ternyata hanya 237.
  3. Pada kegiatan ini sudah bisa ditentukan status gizi balita yang masuk program penanggulangan gizi buruk.
    1. Bila z-score BB/TB <-2 maka balita langsung masuk pada CTC (Community Based Therapeutical Center). Penanggulangan terapi gizi buruk dengan berbasis masyarakat. Nanti di bagian bawah akan saya jelaskan apa itu CTC.
    2. Bila z-score BB/TB <-3 maka balita akan masuk dalam rawat inap, TFC (Therapeutical Feeding Center).
    3. Bila ia menunjukkan gejala marasmik kwashiorkor, kwashiorkor, biasanya karena sudah ada oedema maka biasanya berat badan tidak bisa lagi dijadikan patokan, yang digunakan adalah tanda-tanda klinis. Pasien yang demikian atau pasien A atau B dengan penyakit komplikasi yang berat dilakukan rujukan ke RS.
  4. Setelah dilakukan penimbangan kami memberikan, obat cacing, zinc syrup dan PMT ala kadarnya.

Dibawah ini adalah foto-foto dan keterangan pada saat kegiatan penemuan gizi buruk sedang dilakukan.

Melakukan persiapan di halaman depan puskesmas. Alat dan bahan (obat cacing dan zinc syrup)

 

Balita BGM mulai berdatangan dan mulai diadakan pendataan dan pengecekan ulang apakah memang balita tersebut BGM.

 

Pengukuran antropometri pun dilakukan .. anak ditimbang, diukur panjang badan atau tinggi badan dengan menggunakan micro toa di dinding (tidak terlihat pada foto2 diatas), diukur lingkar lengan atas (LILA/MUAC) dan Lingkar Kepala (LIKA/HC). Setelah itu boss di pojok kanan bawah itu menentukan status gizi dengan memasukkan semua data tadi pada laptopnya .. ssssaaahhh ..

  

Anak yang termasuk dalam kriteria z-Score <-2 diberikan Pirantel Pamoat dan Zinc Syrup. Agar tidak mengundang kecemburuan ada yang mendapatkan susu maka kali ini dibatasi hanya obat cacing saja yang dibagikan. Itupun hanya yang memasuki kriteria.

Dasar nasib lagi mujur, sebelumnya pemberian PMT di penemuan ini kami drop karena tidak ada dana. Hari pertama pemeriksaan eh kok kebetulan ada timnya Promina lewat depan puskesmas dan melihat ada keramaian, karena tahun lalu memang pernah ada kerjasama, seorang dari mereka menawarkan untuk memberikan sample … tentu saja ini sangat menyenangkan ibu-ibu yang datang berombongan dan masih menunggu temannya .. sample yang dibagikan adalah biskuit dan MP-ASI dalam sachet2 kecil. Semoga saja ini tidak menyalahi aturan WHO tentang larangan produk yg berbau2 ‘formula’ ..

Pemberian obat cacing disini didasarkan dengan melihat perilaku anak yang kami curigai kemungkinan besar kekurangan berat badan atau anemia-nya menderita kecacingan. Pemeriksaan tinja untuk kecacingan tampaknya baru bisa dilaksanakan tahun depan, tahun ini belum ada sumber daya belum mencukupi. Jadi otomatis pukul rata saja dulu.

Untuk pengukuran digunakan standar WHO (standar yang dianut Depkes). Untuk yang ingin memanfaatkan pencatatan balita dengan menggunakan software WHO anda bisa download disini :

Penatalaksanaan Kasus Gizi Buruk

TFC [Therapeutical Feeding Center] 

TFC adalah perawatan balita penderita Gizi Buruk. Tapi yang dilakukan di Puskesmas Perawatan kami dibatasi hanya yang tidak disertai komplikasi berat. Berapa kali ada yang disertai dengan infeksi saluran pernapasan dan atau dehidrasi karena diare. Yang dilakukan disini adalah 10 langkah penatalaksanaan gizi buruk sampai dengan balita pulang.

CTC [Community-based Therapeutical Center]

PPG (Pos Pelayanan Gizi) diadakan terkait dengan kegiatan Poskesdes di desa, hanya saja spesifik untuk gizi buruk. Kegiatannya antara lain pemantauan status gizi anak. CTC lebih pada melanjutkan ke fase rehabilitasi dan tindak lanjut dari 10 langkah penanganan gizi buruk.

Pelaksanaannya agak merepotkan dengan sulitnya sumberdaya yang diperlukan untuk melatih kader, memilih kader PPG dan keterampilan standar melakukan pengukuran antropometri. Untuk desa yang dekat dengan puskesmas kita mengadakan CTC di Puskesmas. Karena lebih memudahkan dalam hal sumber daya dan ketepatan pengukuran yang masih menjadi faktor utama keberhasilan penanggulangan. Kebanyakan kasus yang ditangani puskesmas berhasil karena pencegahan untuk kembali menjadi kasus gizi buruk bisa lebih terlaksana dalam bentuk konseling. Sedang di desa jauh, sangat tergantung dari kader yang memantau.

Untuk Poin 9 Pemberian Stimulasi adalah erat kaitannya dengan pelaksanaan program DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang) dengan bertitik berat pemberian stimulasi yang diadakan oleh orangtua. Pada saat TFC, stimulasi dilakukan oleh Poli KIA sedangkan pada saat  CTC, stimulasi dilakukan oleh PHN (Public Health Nursing/Perkesmas).

Pencegahan Kasus Gizi Buruk

Pemasyarakatan Menu Makanan Lokal dan MP ASI Lokal

Ini adalah perkembangan dari berkembangnya program pencegahan kasus gizi buruk. Mula-mula tahun lalu diterapkan dengan menggunakan PD (positive deviance) tapi belakangan nampaknya dibuat aktif dengan memberikan pengetahuan akan makanan lokal yang bermanfaat untuk MP ASI dan sebagai menu harian pada usia diatas baduta. Kegiatannya tahun ini baru pilot project di 2 desa dengan bentuk PMT Penyuluhan dan hasilnya bagus sekali. Peningkatan berat badan balita signifikan. Sayangnya dana yang dibutuhkan besar sekali. Meskipun polanya pemberdayaan.

Penatalaksanaan Kasus Gangguan Gizi Awal

Di KMS dapat ditentukan pola pertumbuhan dengan melihat garis pertambahan berat dibandingkan dengan pita warnanya. Terdapat 5 pola pertumbuhan, T1-3 dan N1-2. T1 (garis pertumbuhan menyebrang ke pita yang lebih muda meskipun ada kenaikan), T2 (tetap) dan T3 (turun) adalah kemungkinan adanya gangguan dalam pertumbuhan : misalnya infeksi yang tidak diobati atau salahnya asupan gizi bagi balita. Inilah sasaran kegiatan ini. Bila bisa dicegah terjadinya gangguan gizi pada masa ini maka diharapkan akan terhindarkan kasus gizi buruk. Metodenya rujukan dengan ambulan desa kasus Pola T yg berulang tiap 3 bulan sekali.

Demikianlah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Puskesmas Krejengan pada tahun 2009 ini. Sedangkan kegiatan yang bersifat lintas sektor tahun ini belum mendapatkan porsi pendanaan. Tidak sebagaimana tahun lalu ada dana khusus untuk melaksanakan kegiatan SKPG, tahun ini tidak ada, meskipun bisa dititipkan di beberapa kegiatan kecamatan, namun sudah bisa dipastikan hasilnya tidak maksimal. Mungkin tahun depan akan jadi perhatian bila kegiatan tahun ini berhasil dengan baik. Mohon masukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s