Pengusulan RAPERDA – Domba vs Srigala

Standard

Beberapa hari ini jadi merasa agak menurun perasaan senang bekerja karena adanya beberapa kejadian di rapat terakhir yang kemaren diadakan di Dinas Kesehatan. Seperti biasa pada saat itu adalah jadwalnya Rapat Bulanan Kepala Puskesmas. Dan seperti biasanya ibu Kadin membuka acara dengan memberikan pengarahan beberapa program, juga mengingatkan kedisiplinan dst. Hal yang segera menarik ketika kita diajak membicarakan tentang pengusulan raperda Retribusi Puskesmas yang baru. Yang lama sudah cukup usang dan sama sekali sudah tidak sesuai dengan operasional yang mesti diemban oleh puskesmas. Pada tahun-tahun 2007-2008 juga ATP-WTP (Ability dan Willingnes To Pay) masyarakat cukup tinggi. Perda yang lalu produk tahun 2005, sementara sekarang menurut UU Retribusi dan Pajak Daerah yang baru, tiap maksimal 3 tahun sudah harus ditinjau ulang.

Mendekati akhir dari pengarahan tersebut beliau bercerita kepada kami .. *mulai dari sini sudah mengikuti khayalan saya –red.*

Domba-Domba Puskesmas Siap Diperas !

Suatu ketika hiduplah sekumpulan domba di suatu padang. Mereka hidup agak terpencar-pencar dan dari berbagai varian domba yang ada. Beberapa diantaranya adalah domba-domba yang berani bicara bila mereka sedang berkumpul, juga ada yang patuh menurut apapun yang diperintahkan oleh kepala domba.

Yth. Para Wakil Srigala yang siap memangsa !Kepala domba akhir-akhir ini bertemu dengan segerombolan srigala dalam upaya untuk meningkatkan harga susu domba. Dasar srigala tentu saja mereka tidak bisa begitu saja melewatkan kesempatan ini. Menurut mereka, karena mereka yang termasuk yang menentukan apakah harga susu domba bisa dinaikkan atau tidak, maka sudah selayaknya kepala domba dan jajaran harus memberikan upeti kepada mereka. Konon kepala domba segera menyetujui – yeach mau ngga setuju bagaimana, mereka kan srigala – begitu menurut kepala domba.

Susu Domba adalah Produk Jasa Kesehatan dari para domba yang dijual seharga retribusi ..Maka akhirnya mulailah disusun berapa banyak yang harus diberikan setiap domba untuk melancarkan upaya negosiasi kenaikan harga tarif susu domba *ada ngga sih I don't know smile*

Rencananya domba-domba akan merelakan daging mereka sendiri untuk dipotong-potong, dan hasil penjualannya akan diberikan kepada srigala-srigala tersebut. Beberapa domba yang cukup besar dan bisa menghasilkan banyak susu, juga mendapatkan keharusan dipotong lebih banyak. Kasian.

Kepala Domba tidak berdaya menolak permintaan dari Srigala .. Beberapa domba jelas kelihatan tidak rela dengan keputusan itu. Karena mereka sendiri dalam menghasilkan penjualan susu sudah merasa terbebani dengan pajak yang dilakukan oleh sang pimpinan domba. Seharusnya pajak 15% tersebut bisa digunakan untuk hal-hal seperti ini. Tapi kenyataannya pajak 15% tersebut tidak pernah ketahuan kemana perginya.
Jelas sekali beberapa domba berbisik-bisik tapi tidak ada yang berani bersuara. Mungkin karena pemimpin domba jelas punya tanduk untuk bicara seperti itu di hadapan pengikutnya.

Srigala tak tahu diri.. minta tambah upeti, minta studi banding pulak !Hari yang ditentukan pun tiba .. segerombolan domba siap disembelih datang dengan rela ke ruang sidang srigala .. dan berdebat dengan mereka .. ah bodohnya! ..

Tentu saja srigala minta daging upetinya, tanpa malu-malu mereka mengajak kepala domba untuk merundingkan secara terpisah, persetujuan berapa banyak yang harus disetorkan di ruang sidang sebelah. Dan celakanya segerombolan domba ini pun hanya bisa termangu-mangu menantikan apa gerangan yang akan dihasilkan oleh  negosiasi kepala domba vs srigala cs.

Domba Bahenol pun sempat jadi bahan pembicaraan memuakkan di ruang sidang "yang mulia" ituh .. Hasilnya pun segera diberitahukan .. Semua domba tetap diharuskan melakukan setoran daging dan masih harus ditambah lagi .. apa lagi beberapa domba yang kelihatan bahenol juga datang .. tentu saja ini membuat ketertarikan tersendiri bagi srigala-srigala tak tau diri ini.
Masih harus lagi ditambah dengan para srigala ini minta diberikan fasilitas untuk jalan-jalan keliling negeri, dengan dana dari kepala domba dan jajaran .. mereka ingin membandingkan dengan kabupaten-kabupaten di Jawa Timur ini harga susu domba dan bagaimana pengelolaannya, serta bagaimana pengalaman suatu kabupaten di sumatera dalam mengelola pendapatan dari penjualan susu domba. Kabupaten yang berdekatan dengan negara Singapura itu tentu saja sangat menarik untuk dikunjungi. Sungguh benar-benar cerita yang memuakkan !

Usai bu Kadin bercerita kamipun semua menangis, sungguh cerita yang sangat menyedihkan dibawakan dengan penuh pesona, semua kepala menunduk. Semua akhirnya terpaksa atau tidak menyetujui apapun yang dititahkan.

[draguscn]

Advertisements

4 thoughts on “Pengusulan RAPERDA – Domba vs Srigala

    • Yg saya tonton kemaren itu adalah dagelan. Bahasanya belepotan. Pola pikirnya ngga bisa dimengerti. Pokok masalahnya ada dimana dianya ngomong kemana. Mestinya mereka kan paham keadaan, jangankan itu, istilah aja banyak yg keliru.
      Apa ngga ada semacam pendadaran dulu. Atau mestinya sebelum mencalonkan diri jadi anggota dprd mereka harusnya bisa memperlihatkan semacam sertifikat uji kompetensi sudah mengerti permasalahan kabupaten. Ahh terlalu berharap, ijazah aja kadang2 masih ada yg nipu. Wekekke

  1. terkadang domba-domba itu berlu perpikir cerdik, agar sang serigala bisatak berdaya…………………………………………….. itu sama halnya yangterjadi di tempatku……………………………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s