Beda Pendapat soal Vaksin Meningitis

Standard

MEDAN, KOMPAS.com — Ulama dan kalangan akademis berbeda pandangan mengenai penggunaan vaksin meningitis. Vaksin yang biasa diberikan kepada anggota jemaah haji ini disebut-sebut memakai bahan ekstrak daging babi. Anggota jemaah haji dihadapkan pada pilihan sulit karena Pemerintah Arab Saudi tidak mengizinkan anggota jemaah yang masuk tanpa pemberian vaksin. 

"Sekarang sebagian ulama masih memiliki perbedaan pandangan. Sebaiknya, polemik ini tidak perlu dibesarkan. Biarlah polemik ini hanya terjadi di tingkat elite," tutur Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara Nur Fadhil Lubis, Selasa (21/7) pada seminar tentang Halal-Haram Vaksin Meningitis di Universitas Negeri Medan (Unimed).

Sejauh belum ada kesimpulan baku, katanya, sebaiknya pemerintah memberikan pilihan kepada umat. "Tentunya pilihan-pilihan ini berdasarkan argumen yang sama-sama kuat. Silakan umat memilihnya sendiri," katanya.

Farmakolog dari Universitas Sumatera Utara (USU), Hidayat, mengatakan bahwa hingga kini belum ada stok cukup vaksin yang bebas dari babi. Vaksin ini dibuat dari bakteri yang dilemahkan untuk memperkuat daya tahan tubuh. Sejauh ini, vaksin dibuat dari enzim tripsin yang berasal dari babi dan sapi.

"Sejauh ini belum ada sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia. Jadi, vaksin ini harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada anggota jemaah haji," katanya.

Sebelum era 1990-an, vaksin meningitis yang diberikan kepada anggota jemaah haji Indonesia berasal dari Belgia. Selanjutnya, vaksin ini diketahui memakai bahan dari ekstrak daging babi. Pada Juni 2009, produsen vaksin dari Belgia datang mengenalkan pembuatan model baru. Mereka, tutur Hidayat, menggunakan zat papain dari pohon pepaya.

Menurut Hidayat, persoalan vaksin meningitis berlarut-larut karena Pemerintah Indonesia belum mampu memproduksinya. Semestinya, Indonesia bisa menjadi negara yang lebih maju dalam hal pembuatan vaksin. Ada dua lembaga penelitian yang sejak dulu disegani di mata dunia ada di Indonesia. Lembaga penelitian itu adalah Lembaga Penelitian Eijkman (di Jakarta) dan Lembaga Penelitian Pasteur (di Bandung).

Dia heran, lembaga penelitian ini tidak bisa menyelesaikan persoalan seperti penyediaan vaksin meningitis. Tidak hanya itu, lembaga ini mestinya mampu menghadirkan hasil penelitian menghadapi penyebaran virus, baik flu burung maupun flu babi yang sedang merebak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s