Ketika Imunisasi Terbentur Ongkos Ojek

Standard

Membawa anak untuk imunisasi bukan perkara mudah bagi ibu-ibu di wilayah selatan Jawa Barat. Meskipun imunisasi gratis, mereka tetap harus merogoh kocek minimal Rp 20.000 per hari untuk menuju lokasi imunisasi. Biaya itu relatif tinggi bagi kaum ibu di tengah impitan hidup.

Hal itu seperti dialami ibu-ibu di Desa Batu Sumur, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp 20.000 untuk membayar ojek menuju puskesmas yang berada di pusat kota Kecamatan Manonjaya.

"Selain akses transportasi yang susah, masyarakat di sana juga masih banyak yang menolak anaknya diimunisasi. Itu karena tingkat pendidikan yang masih rendah sehingga mereka sulit menerima informasi pentingnya imunisasi," kata Siti Kamilah, juru imunisasi di Puskesmas Manonjaya, ketika ditemui pada acara Pertemuan Nasional Advokasi Akselerasi Imunisasi, Selasa (8/7) di Bandung.

Kesulitan akses juga mengakibatkan pasokan vaksin imunisasi kerap kali terlambat di puskesmas tersebut. Padahal, ada 1.295 bayi usia 0-11 bulan yang menanti untuk diimunisasi.

"Pasokan vaksin untuk imunisasi bacillus callmette-guerin (BCG) pernah kosong selama empat bulan. Kalau sudah begini, saya cukup kerepotan karena harus mencapai target imunisasi," kata Siti yang menjadi juru imunisasi sejak 2007.

Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf mengakui, wilayah selatan Jabar susah ditembus dalam pelaksanaan imunisasi. Solusinya, lanjut Dede, tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) harus digerakkan untuk menjangkau daerah-daerah tersebut.

Tahun ini Pemerintah Provinsi Jabar menargetkan 100 persen bayi di Jabar bisa diimunisasi. Menurut Dede, tahun lalu capaian imunisasi Jabar baru sekitar 80 persen. "Artinya, tinggal beberapa puluh ribu lagi anak yang perlu diimunisasi," katanya.

Menanggapi target tersebut, Siti hanya bisa tersenyum. "Berat juga, tapi kami tetap harus berusaha. Saya berharap organisasi seperti PKK dan Pramuka bisa mendukung pelaksanaan imunisasi sampai tingkat desa," tuturnya.

Target nasional

Kementerian Kesehatan lewat Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional menargetkan 100 persen bayi dari seluruh desa/kelurahan di Indonesia memperoleh imunisasi dasar lengkap pada 2014.

Data Kementerian Kesehatan 2009 menunjukkan, imunisasi di tingkat desa/kelurahan baru mencapai 69,6 persen. Penyebabnya ialah kurangnya dukungan pemerintah daerah, minimnya dana operasional, dan keterbatasan fasilitas.

Sosialisasi yang tidak efektif juga dinilai menjadi penyebab minimnya pengetahuan masyarakat tentang imunisasi. Terkait dengan hal itu, Kementerian Kesehatan akan meluncurkan sinetron khusus.

"Sinetron ini diproduksi untuk menyampaikan program kesehatan, seperti imunisasi, Jamkesmas, dan posyandu. Kami bikin yang menarik. Mudah-mudahan masyarakat tertarik," ungkap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.

Selain memiliki puskesmas keliling dan puskesmas air, Kemkes juga tengah merancang pembangunan puskesmas udara, yakni puskesmas dalam pesawat terbang yang bisa mendarat di atas air. Puskesmas udara itu ditargetkan rampung pada 2011. "Fungsinya untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit ditembus mobil," kata Endang. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s