Filariasis

Standard


Bagi sementara orang, filariasis menypakan. penyakit yang hanya didengar ceritanya saja taa pernah melihat sendiri penderitanya. Penyakit ini memang sejenis penyakit parasit yang penyebarannya tidak merata, melainkan terkonsentrasi di beberapa kantong-kantong wilayah tertentu. Meskipun demikian, penyakit ini tetap merupakan masalah kesehatan yang penting, karena menyebabkan kerugian masyarakat berupa penurunan produktivitas penderitanya, apalagi sarana pemberantasannya sebenarnya sudah cukup tersedia. Adanya kendala yang di-jumpai di lapanganlah yang mengakibatkan mash terdapatnya daerah-daerah endemik filariasis sampai saat ini. Edisi kalil ini menampilkan kumpulan makalah yang pernah dibahas pada Seminar Penyakit Menular yang diadakan oleh Pusat Penelitian Penyakit Menular Departemen Kesehatan RI beberapa waktu yang lalu, ditambah dengan artikel yang membahas aspek imunologi dan bioteknologinya. Seminar tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi yaitu : Karena keterbatasan biaya operasi untuk pemberantasan filariasis, maka sejak tahun anggaran 1987 – 1988 pelaksanaannya diserahkan ke Puskesmas dengan melakukan pengobatan bagi penderita yang berobat ke Puskesmas setempat. Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka forum diskusi simposium filariasis memandang perlu untuk menyiapkan penanggulangan filariasis di tingkat Pus-kesmas. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah sebagai berikut :
1) Petugas Puskesmas dengan memakai indikator gejala klinis: adenolimfangitis dan elephantiasis, dapat memperkirakan adanya filariasis di suatu daerah atau desa.
2) Suatu desa yang diperkirakan merupakan daerah endemis, dianjurkan melaksanakan pemeriksaan darah jari 20 ul pada malam hari, dari sejumlah 10% dari penduduknya.
3) Bila hasil pemeriksaan darah.menunjukkan mikrofilaremia 5% atau lebih dari jumlah yang diperiksa, maka sebaiknya dilakukan pengobatan massal dengan biaya dari Daerah.
4) Pengobatan massal dianjurkan dengan dosis rendah yang diberikan secara berkala sampai dicapai dosis total Dietilkarbamasin sejumlah 4 g untuk B. malayi dan 6 g untuk W. bancrofti lama pengobatan ditetapkan oleh kebijaksanaan dokter Puskesmas. Pengobatan tersebut dianjurkan dengan peran serta masyarakat.
5) Vektor potensialdi daerah endemis ini perlu ditentukan, untuk mengetahui tempat perindukannya. Selanjutnya bila memungkinkan dilakukan pengendalian lingkungan dengan kerjasama lintas sektoral khususnya bidang pertanian.
6) Evaluasi pengobatan dianjurkan dilaksanakan 3 tahun setelah pengobatan.
7) Memasukkan Dietilkarbamasin dalam daftar obat essensial filariasis obat Inpres Puskesmas.

[CDK 64]

Advertisements

One thought on “Filariasis

  1. Terima kasih atas tulisan ini, saya jadi mengetahui bagaimana sebenarnya penyakit filariasis ini. Ternyata penyembuhannya sulit ya. Makin memahami arti kesehatan dalam hidup….sekali lagi terima kasih untuk para Dokter yang tergabung dalam Blog IDI Probolinggo…Wass. Dewi Widowati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s