Babak belur dihajar Mother Nature

Standard

Dua hari hujan mengguyur bumi Krejengan ini. Bahkan di malam yang sial untuk Tuan Budi dan keluarganya itu, hujannya juga tidak begitu deras malam itu. Hanya rintik-rintik tapi tidak berhenti. Daerah tempat tinggalnya itu adalah desa Patemon, Dusun Patemon Lor, yang terhubung dengan desa Selo Gudik, Kecamatan Pajarakan. Blok yang ditinggalinya itu terdiri dari rumah-rumah toko yang memang tadinya disediakan pemerintah daerah untuk kawasan pasar. Namun karena kurang peminat maka hanya menjadi tempat tinggal 2 keluarga dan toko-toko yang hanya dibuka pagi hari.

Saat itu, berdasarkan penuturan keluarga dan korban (Pak Budi) sendiri, harinya sudah jam 21.00. Malam masih belum lagi larut, tapi mereka mendengar ada suara berisik seng yang gemeretak di selatan dari rumah itu. Ibu yang berasal dari keluarga satu lagi yang juga mendiami perumahan pasar yang tidak berkembang itu juga bercerita bahwa mereka masih sempat melihat air meningkat dengan cepat di sungai. Sehingga mereka membangunkan pak Budi yang tinggal di sebelah dan khawatir mereka perlu mengungsi ..

Ketika dibangunkan pak Budi mengira justru begal atau rampok sehingga keluar dengan menghunus clurit. Tapi yang memberi peringatan sudah berlari karena di sebelah selatan, rumah yang tak dihuni sudah mulai ada yang berderak ambruk terkena sampah yang larut bersama air.

Kurang lebih jam 21.30, pak Budi yang bersiap meninggalkan rumah itu keluar dari pintu depan yang menghadap ke Sungai Pekalen. Tanpa memberi peringatan lagi air menyerbu dan menghantam tubuhnya sehingga terpental masuk lagi ke dalam rumah yang saat itu sontak dipenuhi air setinggi bubungan.

Kami, hari ini tadi menelusuri dari mana air itu berasal. Ternyata memang asalnya dari sebelah atas dari rumah itu. Jadi air bah itu sudah meluap dari sungai jauh diatas dari daerah itu. Memang bila dirunut sungai ini nanti akan bertemu dengan sungai Pekalen yang berada di Condong tempat sekarang sering digunakan untuk arung jeram. Dan konon 2 hari lalu ada kabar bahwa daerah tersebut longsor. Mungkin itulah material longsor yang dibawa oleh arus sungai ke dusun Patemon Lor tersebut.

Kembali ke Pak Budi yang terlempar kembali ke dalam rumah. Badannya menghantam dinding yang kemudian juga hancur. “Badan saya terasa remuk, Pak Dokter” demikian tadi dia mengeluhkan. Tapi setelah saya periksa cuma ototnya saja yang memar. Secara mata telanjang dan rabaan tidak terlihat ada tulang yang patah. “Saya keluar dari air lumpur itu tidak tahu arah utara selatan, pak” Wajar sekali mengingat lumpurnya cukup pekat. Mobilnya pak Budi, si pedagang itu rencananya akan diselamatkan ketika banjir kiriman kedua menabrak dan menutup pintu garasi mobilnya. Pak Budipun menyelamatkan diri sekali lagi, ketika air mulai membawa mobilnya pelan-pelan ke arah belakang rumahnya yang sudah mulai menggenang bak danau.

Air menerjang rumah yang lebih tinggi dari bantaran sungai, bukan saja berasal dari sungai tapi juga dari atas. Tempat yang saya tunjuk itu adalah batas genangan yang terjadi saat itu di rumah itu. Dari level sungai berkisar 4-5 meter.

Jam 22.00, setengah jam setelah Naga Air mengamuk di dusun Patemon Lor tersebut, air kembali surut ke level sungai. Dan ternyata itu bukan satu-satunya tempat mengamuk sang Naga yang baru berumur 1 bulan ini.  Desa lain yang juga terkena bencana akhir minggu kemaren antara lain adalah :Sumber Katimoho – Jembatan penghubung ke dusun Sumber Mendo putus. Gebangan, Sokaan, Kamal Kuning dan Widoro tercatat air naik bervariasi sampai semata kaki, tapi tidak menimbulkan kerusakan. Rawan, air naik cukup tinggi sampai 1-2 meter menggenangi 18 rumah. Juga tanpa kerusakan apapun. Di Dawuhan, angin menumbangkan pohon mangga menimpa sebuah rumah. Dan lagi tanpa korban jiwa. Desa lain relatif aman.

Tersisalah pekerjaan untuk ‘para penjaga’ yang justru baru berkumpul dan sepakat bahaya bencana yang paling mungkin adalah banjir dan angin puting beliung. Dua hari setelah pertemuan di puskesmas dengan tema “PERSIAPAN SIMULASI TANGGAP DARURAT BENCANA” Jumat (27/01) kemaren itu, tangan alam melalui banjir dan angin memporakporandakan. Bahkan SOPnya saja belum selesai dirembuk, apalagi dihapalkan. Sungguh ironis. 😀 Apa jangan-jangan gara-gara diomongin Jumatnya maka Allah merasa perlu test case  dulu malam Minggu-nya.

Tentu saja ini hanya bencana kecil jika dibanding dengan bencana di tempat lain yang terkenal lebih dahsyat. Bagaimanapun sekarang ini sangat diperlukan kesiapsiagaan mengatasi dampak bencana atau apapun yang masih bisa diselamatkan dalam suasana darurat seperti tadi. Sesiangan ini saya banyak belajar. Alhamdulillah.

 

Krejengan, 30 Januari 2012

[draguscn]

Advertisements

One thought on “Babak belur dihajar Mother Nature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s