Hari-hari yang sama, 6 tahun lalu ..

Standard

Sehari sebelumnya ..

Kenangannya seperti masih kemarin, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kami datang sudah siang dan menempati tenda-tenda. Barang bawaan saya begitu banyak. Satu karung besar obat2an harus disandang. Badan dibalut 2 lembar kain yang meski tebal masih memberikan kesempatan udara dingin menelusup. Para wanita menggunakan jaket warna telor asin, duduk-duduk di dalam tenda. Para lelaki melihat berkeliling, membagi tugas.

Karung besar yang terbuat dari bahan terpal seperti milik pak pos ini hanya terisi sedikit obat-obatan yang saya yakini diperlukan segera. Sisanya saya tinggalkan di Hotel. Selebihnya ada banyak roti dalam plastik-plastik, pemberian dari orang-orang yang meyakini berada di jalan Allah. Di tenda kami yang agak kecil – tapi karena hanya diisi 3 orang maka terasa luas – obat dan makanan tadi kami susun. Saya membawa beberapa bungkus Energen Sereal yang sudah disiapkan isteri. Selintas tadi saya lihat ada colokan untuk pemanas di beberapa pojok tenda, juga ada air galon yang disediakan.

Tiga hari sebelum hari ini, saya sudah melihat tenda-tenda ini. Cukup kuat nampaknya. Yang berbeda adalah waktu itu pakaian saya cukup lengkap dan rapat. Tendanya terbuka dan di bagian bawahnya belum diberikan hambal seperti hari ini. Kami menunaikan shalat Ashar. Melepas lelah sebentar dan membagi tugas.

Menjelang sore .. lapar mulai menyerang. Entah kenapa makan siang tidak kunjung datang. Mungkinkah kemacetan menghalangi katering yang datang? Kenapa jadi demikian lama. Para lelaki tentu saja tidak perlu dikhawatirkan. Tapi saya mulai meronda ke tenda-tenda yang ada wanita-wanita lemah. ada beberapa orangtua yang juga sakit-sakitan. Tapi semua harus berkumpul disini meskipun sakit.

Mata Pak Ali sangat gelisah melihat truk yang sejak tadi berada diluar pagar pembatas wilayah ini. Beberapa waktu lalu Pak Ali dan beberapa boss dari rombongan sebelah rapat mengenai keberadaan truk tersebut. Tak berapa lama beberapa orang mulai bergerombol bersama Pak Ali melihat ke arah luar. Seorang diantaranya penduduk asli daerah ini. Badannya besar dan menggunakan hanya kain tipis di badannya. Orang ini juga gelisah.

Tak lama datanglah masalah yang dikhawatirkan .. segerombolan orang – tidak, segerombolan besar orang – merangsek maju .. keluar dari pagar pembatas .. berkumpul di sekitar truk dengan kotak-kotak itu .. seperti semut disekeliling gula .. beberapa orang berbaju coklat menghalau semut putih. Tapi segera saja mereka kalah jumlah .. dan mulailah terjadi penjarahan. Dilakukan oleh orang-orang yang lapar. Lapar? Entah .. kami membawa cukup banyak roti untuk mengganjal perut. Dan ini sudah kami waspadai dari mulai merencanakan keberangkatan. Kotak-kotak itu memang berisi makanan. Dibagikan satu mereka minta lagi. Di tambahi mereka tetap tidak menjauh. Akhirnya beberapa orang naik sendiri ke atas trailer, dan melemparkan kotak-kotak itu ke orang-orang. Makanannya berhamburan. Tak ada lagi yg bisa disantap. Lamat-lamat saya mendengar si Penduduk asli tadi bergumam “Lihatlah itu, manusia sudah seperti binatang. Meloncat dengan kemaluan yang bisa dilihat dari mana-mana. Membagikan makanan tapi malah membuang-buangnya. Demi memuaskan nafsu kelaparannya yang tidak seberapa. Sungguh menyedihkan!”

1243 (17)

Pak Ali berdiri menghadap kami .. “Demi Tuhan, jangan keluar dari pagar ini. Ini adalah batas terluar dari ARAFAH. Diluar sana sudah bukan Arafah lagi.”

Esoknya ..

Bangun setelah semalaman berada di kedinginan sungguh membuat kaku badan. Apalagi tempat tidurnya tidak senyaman di maktab. Alasnya hanya hambal, selembut apapun tetap terasa kerasnya. Udaranya lebih dingin dari AC yang sayangnya ngga bisa dikecilkan. Segera saja kebutuhan utama adalah menyalurkan hajat, mandi, cek pasien dan sarapan. Hari Jumat yg dinanti-nanti. Hari ini akan ada khutbah arafah. Dan prosesi yang selama ini dipersiapkan memuncak disini.

1243 (11)

Ketersediaan makanan ternyata masih menjadi masalah, Tapi mulai jelas penyebabnya, Pagi itu semua ketua Kloter dipanggil dan diminta menenangkan jamaah. Dan tetap tanpa ada pemecahan urusan makanan. Meskipun katering sudah siap, transportasi yang digunakan untuk membawa makanan bermasalah, jalanan yang dilalui penuh, angkutan tidak ada supir, orang semua ingin berhaji akbar. Termasuk orang arab dan negara-negara sekitarnya yang masih bisa ditempuh dengan menggunakan mobil.

Selesai mandi saya menyeduh segelas energen. Sangat bersyukur minuman itu yang disangukan oleh istri, Di Mekkah cuma terminum beberapa bungkus. Di Arafah ini, benar-benar bisa mengalas perut. Tapi untuk mendapatkan air panasnya harus antri cukup lama. Segelas tuntas masuk ke dalam perut. Ditambah roti. jangan bayangkan roti yang sama dengan yang di tanah air. At least pengganjal perut yang efektif. Kemudian saya dan Pak Ali – Ketua Kloter – melihat tenda tempat akan dilaksanakan ibadah arafah. Teks khutbah dibagikan, ternyata sudah ada yang mempersiapkan, sungguh sangat membantu, mengingat sound system yang tidak terlalu besar seperti orang kawinan di negara sendiri. 😀
Kami juga menengok orangtua-orangtua yang sakit. Dan melihat bagaimana pelaksanaan acara mandi dengan kamar mandi mobile yang terbatas jumlah.

Acara yang dinantikan pun tiba juga. Terasa sekali suasana setelah khutbah arafah dibacakan badan saya terasa terus bergetar. Seperti menggigil, haru, entah bagaimana kami bisa sudah ada di tenda kami. Dan setiap kami mulai berdoa masing-masing. Saya membaca apa yang saya bisa. Hening. Kadang terdengar ada suara yang mengaji AlQuran. Saya juga mencoba membaca, entah di lembar yang mana, tulisannya mengabur karena airmata yang berjatuhan. Akhirnya saya manfaatkan untuk berdoa saja. Menelepon ke tanah air, mendengarkan suara istri, ibu saya dan anak-anak, mengajak mereka untuk sama-sama mengaminkan doa yang sudah saya tulis waktu masih di maktab.
Waktu segera boros bergeser ke ashar .. maka inilah ujung keberadaan di Arafah ..

1243 (8)

Malamnya ..

Peralihan dari Arafah ke Muzdalifah tidaklah seperti yang diperkirakan. Tarodud (Sistem Pengangkutan) yang dilaksanakan kurang sukses. Mungkin karena membludaknya jamaah haji yang memenuhi jalan menuju dan dari Arafah maka kemacetanpun tak terhindarkan. Matahari sudah ngga ada waktu kami sampai di pelataran Muzdalifah, dan kamipun menyegerakan menyelesaikan pengumpulan batu.

 1243 (23)

Kembali masalah kendaraan tidak lancar. Kali ini lebih parah daripada di Arafah. Mungkin juga karena memang seharian itu tidak ada nasi masuk ke perut, udara sangat dingin, kain yang boleh melekat di badan hanya ihram. Yang jual minuman cuma 1-2 orang. Yang kalo dia muncul segera dirubung banyak orang pesan teh susu panas. Sekitar semenit kemudian berubah menjadi teh susu saja. Kami menunggu tengah malam yang terasa lambat sekali berjalannya. Lengkap sudah : perut kosong, udara sangat dingin, minuman penghangat tidak ada, baju mudah ditembus udara dingin, jemputan tak kunjung datang. Kami benar-benar mabid (bermalam) di Muzdalifah.

Menjelang shubuh kloter kami kehilangan seorang kakek yang tadinya menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Syukurlah kemudian kita menemukan beliau. Perjuangan melelahkan dalam kedinginan dan perut yang relatif kosong ini pun berakhir ..

1244 (4)

Semua catatan di atas adalah apa yang terjadi saat itu berdasarkan ingatan saya. Tentu saja ada keterbatasannya. Hari Arafah, 2006

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s